Posts tagged iklim

Selamat Datang di Dumai

Surveying the ships anchored in Dumai port © Greenpeace/Woolley

Memantau kapal di pelabuhan Dumai © Greenpeace/Woolley

Hari ini pagi-pagi sekali , Kami menarik jangkar dan meninggalkan Sungai Pakning untuk meneruskan perjalanan selanjutnya di bagian sumatra menuju Dumai. Perjalanan hanya menempuh beberapa jam saja dan pemandangannya tidak banyak berubah : Kami melepas jangkar di sebuah selat yang gelap di antara dataran dan kumpulan pulau-pulau, saat ini sedikit lebih luas dan pelabuhannya lebih besar. Ya jauh lebih besar, Karena Dumai adalah pelabuhan kedua terbesar untuk ekspor minyak kelapa sawit; Pelabuhan Belawan di Medan adalah yang terbear dan juga berada di Sumatra.

Tugas kita di sini adalah untuk memantau ekspor minyak kelapa sawit, memeriksa kapal yang sedang memuat kelapa sawit dan kemana mereka menuju. Dumai merupakan pelabuhan yang ramai dengan beberapa kapal kontainer besar menunggu bongkar dan memuat barang-barang mereka. Banyak dari mereka melakukan pengiriman dengan tujuan pasar Eropa, China dan beberpa tempat lain, maka Dumai merupakan tempat penting dalam rantai ini, menghubungkan langsung pengrusakan hutan-hutan di Indonesia dengan supermarket dan pos-pos minyak dibelahan dunia yang lain.

Tetaplah membaca dan saya akan memberitahukan anda apa yang kami temukan

Di tulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Iklan

Leave a comment »

Pembabatan dan Pembakaran Hutan di Riau

Now you see it...

Sekarang, Lihatlah ini....

Kami tiba di Sungai Pakning, dermaga kecil di daerah pesisir Riau, Sumatra dan Esperanza berlabuh di sebuah terusan berlumpur  yang mengalir diantara daratan utama dan dua pulau, Pulau Bengkalis dan Pulau Padang. Air kental yang mengalir pelan melewati kapal akan bermuara di Sungai Siak, yang tepi pantainya hanya beberapa mil kearah selatan.

Sungai Pakning mungkin merupakan dermaga kecil, tapi dimana-mana terlihat banyak tanda atas apa yang terjadi di pedalaman pulau tersebut. Kapal kontainer besar berlabuh dengan tenang menunggu muatan mereka dan api diatas kilang minyak menyinari langit malam hari. Kami berada di ujung wilayah perkebunan-perkebunan besar yang  mendominasi daerah ini, keduanya adalah perkebunan kelapa sawit yang telah banyak kita lihat dan pepohonan Akasia yang telah dipanen untuk dijadikan Pulp and Paper (bubur kertas)

Semua perkebunan ini berada di wilayah yang dulunya hutan dataran rendah yang lebat,dengan aliran air yang berasal dari lahan gambut. Tentu saja saat ini hutannya sudah hilang, gambut sudah dikeringkan dan dibakar, menyebabkan kabut asap tahunan menyelubungi Asia Tenggara selama masa pembakaran. Pembabatan, pengeringan dan pembakaran telah melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang besar dan berkontribusi menempatkan Indonesia diposisi tiga dalam table emisi global

Tweety telah melaju dalam misi pemantauan yang lebih dalam. Cuaca Hujan telah membuat kami frustasi tapi John dan Kasan — juru foto dan juru kamera yang kami dihormati-telah membuat beberapa gambar diatas semenanjung Kampar. Kami secara khusus tertarik pada wilayah ini karena mempunyai hutan rawa terakhir yang luas dan disinilah pada tahun lalu Kamp Pembela Hutan membangun bendungan dan memasang banner.

….Sekarang tidak lagi.  Tidak terlalu lama sebelum gambar ini diambil, hutan alami berdiri di wilayah itu.

...now you don't. Until shortly before this picture was taken, pristine forest stood in that spot

...sekarang kamu tidak bisa lagi melihatnya. sebelum foto ini di ambil, hutan itu masih ada di sana.

Menyedihkan, ini bukan berita baik. Seperti yang dapat kau lihat pada gambar diatas, buldoser membersihkan wilayah hutan yang masih tersisa, pikirkan ini: beberapa hari (bahkan jam) sebelum kamera kami berada disana, sebagian lahan masih ditutupi hutan yang mungkin telah ada disana selama ribuan tahun. Sekarang semuanya hilang, membawa serta kehidupan alam liar, tumbuh-tumbuhan dan memindahkan semua hal yang memungkinkan komunitas lokal dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Itu terjadi ketika helikopter terbang sesaat lalu dan masih terjadi ketika anda membaca ini.

Di dalam semanjung terdapat secuil hutan gambut yang dilindungi, tapi ketika detail peta wilayah dilihat dengan cepat, terungkaplah bahwa wilayah tersebut dikepung oleh perkebunan dan penebangan kayu glondongan yang konsensinya dimiliki oleh perusahaan seperti Duta Palma, Asian Agri dan Asia Pulp and Paper (APP anak perusahaan raksasa kelapa sawit Sinar Mas), dan dengan maraknya pembalakan liar tidak ada jaminan wilayah ini akan tetap tidak tersentuh. Mereka adalah perusahaan yang juga merupakan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil yang secara teori tidak seharusnya merusak lingkungan seperti itu.

Banyak hutan Sumatra dimusnahkan. Seperti yang aku ketahui dalam seminar yang kami selenggarakan di Jakarta minggu lalu, Riau dulunya dipenuhi oleh pepohonan, tapi itu sudah dimusnahkan dan digantikan oleh perkebunan kelapa sawit dan pohon akasia untuk bubur kertas (pulpwood and Paper). Jadi jika itu bukan masalah? Kenapa menyusahkan diri berusaha menyelamtkan beberapa wilayah kecil? Karena taruhannya besar. Kedalaman gambut yang tersisa di semenanjung Kampar mencapai 15 meter, jadi banyak karbon yang tersimpan disana. Jika semuanya akan dikonversikan menjadi tanaman sejenis yang tiada habisnya, maka kita akan melepaskan gas rumah kaca yang nilainya setara dengan emisi global selama setahun

Beberapa minggu lalu, aku melihat hutan Papua dan Papua Barat dirusak oleh penebangan untuk pembuatan jalan dan beberapa perkebunan, tapi secara keseluruhan mereka tidak terganggu. Di Sumatera sini, kebalikannya yang terjadi, dan takdir hutan disini dapat terjadi di Papua

Kami akan berada disekitar sini selama beberapa hari untuk melakukan beberapa penelitian. Aku akan beritahu apa yang kami temukan. Sementara itu, ini adalah beberapa foto selama dua hari ini.

A bulldozer moves alongside canals used to drain peatland by palm oil company Duta Palma

Buldozer perusahaan kelapa sawit duta palma berada di sepanjang kanal untuk mengeringkan lahan gambut

more devastation on Duta Palma land

mengambil yang tersisa : kehancuran yang telah dilakukan Duta Palma

Oil palms stretching as far as the eye can see - another Duta Palma creation All images © Greenpeace/Novis

kelapa sawit terlihat sejauh mata memandang - Duta palma melakukan semua ini © Greenpeace/Novis

di tuliskan Jamie dari Esperanza

Comments (2) »

Ikuti Esperanza dengan Google Earth

Follow the Esperanza in Google Earth

Ikuti Perjalanan Esperanza di Google Earth

Kalau kamu masih ingin membayangkan di mana tempat-tempat yang telah kami lalui, dan rute yang akan ditempuh dalam perjalanan kapal di Indonesia, kamu bisa mengikuti perjalanan Esperanza dengan Google Earth. Silakan mengunduh layer google earth ini dan kamu bisa melihat kapan dan di mana saat-saat tertentu yang telah kami lewati dalam tur ini. (Tentunya kamu harus meng-install Google earth dulu ya.)

Placemark baru akan muncul secara otomatis tiap kali kami meng-update cerita perjalanan, jadi sering-seringlah kembali untuk mengikuti kegiatan kami dan bagaimana kegiatan kampanye berlangsung. Kalau kamu tidak mau meng-install Google Earth, kamu tetap bisa melihat di mana kami berada dengan web browser-mu.

The mysterious whale, answers on a postcard © Greenpeace/Sharomov

© Greenpeace/Sharomov

Sementara, kami telah meninggalkan Manokwari pada hari Senin dan sekarang sedang berlayar ke arah barat menuju Jakarta. Kami akan tiba pada pertengahan minggu depan. Kami telah melewati selat sempit yang bernama Selat Sagewin, kurang dari 2 mil di antara bukit-bukit berhutan dari dua pulau. Saat ini kami sedang berlayar di Laut Seram.

Para kru mengambil kesempatan perjalanan panjang ke Jakarta ini untuk mengecat beberapa bagian kapal. Saya juga sedang beristirahat dari pekerjaan menulis webblog ini dan membantu para kru. Kemarin sekelompok dari kami mengecat bagian depan dek kapal.

Saat kami sedang bekerja, Locky sang bosun atau penyelia anak buah kapal dan Silas melihat keriuhan dalam air hanya beberapa ratus meter dari kapal kami. Air laut terlihat berbuih, dan beberapa saat terlihat semprotan air ke udara – hal ini hanya berarti satu hal: ikan paus! Beberapa diantara mereka terlihat sedang mengiring rombongan ikan menjadi bola-bola umpan dan sesekali membuka rahang mereka yang besar untuk memakan mangsanya.

Dimitri, mualim dua kami, mengambil beberapa foto dan walaupun kami cukup jauh, kamu bisa melihat dengan jelas seekor ikan paus sedang makan. Sudah tujuh tahun dia terakhir melihat seekor paus – memang hari yang beruntung.

posted by Jamie, on board the Esperanza

Leave a comment »

Manokwari, Kami Datang!

A dance troupe from Manokwari take a tour of the Esperanza's bridge © Greenpeace/Rante

Kelompok penari dari sebuah desa di Manokwari melakukan tur di atas Kapal Esperanza© Greenpeace/Rante

Setelah selama sembilan hari kami di laut, Esperanza akhirnya berlabuh di Manokwari pagi ini. Sekelompok orang telah menunggu di dermaga, walaupun langit sedikit mendung kami mendapat sambutan yang sangat meriah dengan warna-warna eksotik menjadi biasa untuk saya pada perjalanan ini. Dengan tarian dan lagu-lagu tradisional untuk menyambut kami turun dari kapal.

Kota Manokwari tidak seperti yang saya bayangkan. Di bayangan saya kota ini adalah kota yang banyak industri dan gedung-gedung beton, tetapi walaupun saya belum beranjak dari pelabuhan kota terlihat sangat menyenangkan. Kota ini adalah kota yang kecil, terlihat dari atas kapal. Sebagian kotas ini tertutup oleh pohon kelapa dan pepohonan. Kota ini berada di dekat hutan yang sangat lebat dengan pohon-pohon tropisnya yang sangat tinggi dekat beberapa bangunan.

Mungkin karena kedekataannya dengan hutan membuat masyarakat di Manokwari sangat berkomitmen untuk melindungi hutan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika masyarakat manokwari yang berada di dermaga berkumpul. Secara spontan orang-orang itu bersalaman dengan saya (atau hanya mencoba baik karena saya berbaju Greenpeace) dan banyaknya gemuruh tepukan saat wakil bupati Manokwari Buinei Dominggus berbicara pada acara penyambutan.

Buinei menyatakan bahwa hutan dan manusia tidak dapat dipisahkan, tetapi keserakahaan manusia untuk merusak hutan berarti sama saja mereka merusak kami dan diri mereka juga. Beliau juga mengingatkan bencana alam yang akan terjadi jika penghancuran ini terus berlangsung, dan meminta dukungan dari negara-negara lain untuk melindungi warisan hutan alam di Papua ini. Semoga saya mendapatkan penjelasaan yang benar karena ini sangat berarti sekali untuk saya sebvagai penulis.

Jumpa Press berlangsung di landasan helikopter di mana para wartawan ditunjukan beberapa foto udara hasil dari pantauan yang telah kami lakukan selama perjalanan dari Jayapura. ini adalah suatu bukti yang jika tidak di hentikan maka hutan di daerah ini akan berangsur-angsur hilang.

Tetapi Sekarang anda dapat ikut melakukan sesuatu. Anda dapat mengirimkan emmail kepada Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, untuk memintanya untuk segera menyerukan moratorium konversi hutan di seluruh Indonesia sebelum terlambat. Anda tidak harus tinggal di Indonesia untuk mengirimkan email ini, karena apa yang terjadi pada hutan Indonesia akan mempengaruhi kita semua.

Petisi untuk hutan Indonesia

Leave a comment »

Bagian 2 – Siapa Saja yang Terlibat di Bisnis Kelapa Sawit: Kepentingan komersial

Lihat peta dengan warna kuning dan hitam. Itu dalah peta negara swiss, dan seluas itupulah hutan di papua akan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di beberapa tahun mendatang.

Lihat peta dengan warna kuning dan hitam. Itu dalah peta negara swiss, dan seluas itupulah hutan di papua akan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di beberapa tahun mendatang.

Seperti yang kami temukan di beberapa penerbangan kemarin, perkebunan kelapa sawit menjadi awal dari dari kehancuran di papua dan papua barat. Sejauh ini, Kami menemukan dua wilayah perkebunan kelapa sawit – di lereh dekat Jayapura, Papua minggu lalu dan di sekitar teluk bintuni kemarin – di bandingkan dengan perkebunan tumbuhan sejenis di sumatera dan Kalimantan, ini masih terhitung sangat kecil. Tetapi keberadaan mereka di sini memberikan suatu peringatan besar  bahwa suatu wilayah besar hutan telah tergambar di atas kertas antara pemerintah Indonesia dan perusahaan kelapa sawit, dan secara nyata akan hilang jika kita tidak mengambil tindakan.

Seperti yang kita lihat dari helikopter penerbangan kemarin, minyak kelapa sawit adalah awal agar keberadaan dirasakan di Papua dan Papua Barat. Sejauh ini, kami telah disurvei perkebunan di dua daerah – Lereh minggu terakhir di dekat Jayapura dan tentu saja satu di dekat Teluk Bituni dari kemarin – dan dibandingkan dengan luas monocultures di Sumatera dan Kalimantan, ini adalah urusan kecil cantik. Tetapi keberadaan mereka di sini adalah peringatan yang besar wilayah hutan telah diukir di atas kertas antara pemerintah Indonesia dan perusahaan minyak kelapa sawit, dan akan diukir untuk nyata jika kita tidak mengambil tindakan.

Di wilayah ini telah tertanam 60,000 hektar kelapa sawit, pemerintah telah mengeluarkan izin meliputi 4 juta hektar wilayah untuk perkebunan (sedikit lebih kecil jika di bandingkan dengan Swiss) dan sebagian besar wilayah tersebut masih hutan alam. Produsen minyak kelapa sawit seperti sinar mas, Medco, Korindo dan Asian Agri telah diberikan hak  untuk alih fungsi dan memperluas perkebunan besar, mereka tidak melakukannya sekaligus, saat ini mereka belum memulainya.

Sebagian dari alasan keragu-raguan mereka adalah kurangnya infrastruktur di daerah kecil dan ataupun perkotaaan  di tanah wilayah mereka berada, pada saat ini, wilayah mereka sangat  jauh dan tidak memiliki akses yang baik. Jadi, banyak perusahaan yang menimbun banyak lahan pada saat harga tanah tersebut masih rendah dan menunggu seperti adaya transportasi sumber daya manusia sebeluh tanah terebut di alih fungsikan menjadi perkebunan.

Alasannya lainnya adalah adanya pelarangan pengiriman kayu bulat di Papua yang di terapkan Gubernur Papua Barnabas Suebu – bahwa tidak memperbolehkan kayu bulat keluar dari wilayah hutan, peraturan ini mencegah masuknya perusahaan pembalak kayu untuk masuk. Tetapi kurangnya sumber daya seperti polisi untuk mengawasi jalannya peraturan tersebut, dan seperti yang kami temui minggu ini, Pembalakan masih terus berlangsung.

Tentu saja, para pembalak tidak akan memperluasan wilayah pembalakan jika tidak ada permintaan yang tinggi pada kelapa sawit dari pasar dunia. Tingginya permintaan ini untuk mencukupi kebutuhan produk-produk supermarket, tidak menyebutkan untuk kebutuhan minyak nabati. Kampanye yang saat ini kami lakukan di Asia tenggara, kami mendorong para konsumen yaitu perusahaan besar di Eropa dan Amerika serikat Seperti Unilever untuk ikut memberikan dorongan pada pemasok minyak kelapa sawit untuk menghentikan penghancuran hutan.

Leave a comment »

Tim kami menemukan pembalakan liar di Papua Barat

Merbau logs are loaded onto barge in Kaimana, West Papua, despite the company's permit being suspended © Greenpeace/Rante

Kayu merbau berada di tempat penampungan sebelum dilakukan pengiriman©Greenpeace/Rante

Kami telah melihat beberapa ancaman terjadi di hutan Papua dan Papua Barat, terutama pembalakan, Pembukaan jalan untuk pembalakan, pembangunan kamp-kamp kecil dan kegiatan penghancuran hutan skala besar di dekat Jayapura, oleh produsen minyak kelapa sawit Sinar Mas. Kemudian, pada hari Senin, tim Kami menemukan sebuah tempat pembalakan liar telah telah terjadi.

Tim kami terbang melalui wilayah Kaimana di Papua Barat dimana dua perusahaan HPH masih beroperasi, namun setelah di selidiki izin mereka telah habis pada awal tahun ini. Pada bulan juli kepolisian telah menangkap dua orang kepala perusahaan – PT. Centrio dan PT. Kaltim Hutama – karena melanggar UU kehutanan Nasional akibat melakukan pembalakan di wilayah luar ijin yang dimilikinya.

Tim kami tidak melihat secara langsung kegiatan pembalakan, Tetapi mereka melihat kayu-kayu bulat yang akan di muat ke atas kapal besar di dua tempat penampungan kayu (dimuara sungai sebelum kapal itu dikirim keluar). Dengan izin yang sudah di tangguhkan, seharusnya tidak ada sudah tidak ada lagi apapun bentuk kegiatan pembalakaan. Dan kayu-kayu itu adalah jenis merbau, jenis kayu dengan nilai harga yang sangat tinggi dan rentan dari kebakaraan.

Apa yang kami lihat di awal minggu ini menunjukan betapa sulitnya untuk dapat melindungi hutan. Tanpa adanya undang-undang dan manajemen yang baik, akan banyak sekali perusahaan yang tidak bertanggung jawab di daerah terpencil akan beroperasi tanpa izin.

Solusinya? Dalam waktu yang pendek, jeda sementara (moratorium ) pada semua konversi hutan di Indonesia – Pada akhir bulan ini di Jakarta kami akan membicarakannya lagi kepada kementerian yang terkait. Tetapi moratorium ini di lakukan untuk sementara waktu kita berfikir, memberi kesempatan untuk menata ulang untuk membenahi krisis yang terjadi. Menata apa yang dapat dilakukan pemerintah dan bantuan yang diterima dari Internasional. Proposal pendanaan “forest for Climate” yang kami ajukan untuk melindungi hutan di seluruh dunia dapat terlaksana.

Leave a comment »

Apakah uang benar-benar bisa menjadi di pohon?

A palm oil plantation in West Papua, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

Jika tidak mendapatkan pendanaan dari indternasional, HUtan Indonesia mendapatkan ancaman dari perluasaan perkebunan kelapa sawit.© Greenpeace/Sharomov

Saat ini kami telah melewati batas administrasi antara Papua dan Papua Barat, dan selama beberapa hari, kami telah berlabuh di sebelah barat Teluk Cenderawasih, Sebuah teluk besar yang membelah pulau Papua di Indonesia menjadi Papua dan Papua Barat,  teluk ini membentuk suatu keindahaan yaitu  bentuk ‘kepala burung’. Pada sisi lain terbentuklah ‘leher  burung’ –  dari sebuah teluk yang bernama Teluk Bituni dan sebuah kawasan bakau  terbesar di Asia – Tenggara.

Kawasan bakau tersebut juga menjadi tempat pembuatan kayu dari pohon bakau  dan Tweety kembali terbang pagi ini untuk memantau  apakah masih beroperasi kegiatan tersebut.  Di Sepanjang teluk, Mereka juga melakukan pemantauan perkebunan kelapa sawit, Walaupun masih terlihat adanya penanaman, tetapi mereka tidak akan memperluas wilayah perkebunan ke hutan yang ada di sekitarnya. Ini adalah berita yang baik, Tetapi bagaimana cara kitas memastikan hutan itu masih utuh atau tidak? Walaupun itu disebut suatu wilayah hutan lindung untuk melindungi setiap inchi dari hutan tersebut terlindungi, tidaklah cukup uang dan Sumber daya yang mampu untuk menegakkan suatu kebenaran untuk melindungi dan memastikan tidak ada satupun yang menjamah untuk penebangan kayu.

Solusinya adalah dengan membuat kaya negara-negara dunia membantu mendanai perlindungan hutan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Amazon dan cenkungan Kongo. Seperti yang dilakukan Barnabas Suebu, gubernur Papua, yang melakukannya pada pulau Yapen dimana kami kunjunginya hari sabtu lalu, yang juga bagian dari Papua.

Ada sebuah proposal pengelolaan yang dapat menjamin keutuhan hutan dan perlindungan keanekaragaman hayati disana, serta Masyarakat dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah. Hak-hak atas kepemilikan masyarakat lokal diakui dan didokumentasikan dengan batas-batas tanah mereka Tradisional kepemilikan hak-hak masyarakat lokal diakui dan didokumentasikan oleh demarcating batas-batas tanah mereka dan untuk memastikan mereka tetap dapat mengunakan hutan untuk kebutuhan hidup mereka, masyarakat harus terlibat di setiap tingkat perencanaan.

A woodchip mill in West Papua, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

pembuatan kayu di papua barat, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

Perencana tersebut  membutuhkan pendanaan  yang cukup banyak, dan pemerintah propinsi Papua mencari bantuan internasional yang dapat menyediakan dana . Sebagai gantinya, negara-negara donor dapat menghitung emisi yang disimpan dengan melestarikan hutan dan  angka pengurangan emisi yang mereka lakukan di negaranya.

Hal ini sama dengan mekanisme pendanaan yang telah kami usulkan, Yang kami sebut Forest for Climate, dan kami ingin memasukkan proposal tersebut masuk dalam tahapan kyoto protokol selanjutnya yang saat ini sedang dinegosiasikan. Dengan rincian yang sangat kompleks tetapi memiliki prinsip yang sederhana yaitu: melakukan perlindungan hutan dunia sebagai keprihatinan internasional, bukan hanya masalah untuk negara-negara yang memiliki hutan.

Dan itu tidak akan memakan biaya yang banyak. Diperkirakan pemangkasaan setengah dari emisi deforestasi bernilai sekitar 10-15 milliyar dolar setiap tahunnya terdengar sangat banyak bukan, tetapi bagaimana jika di bandingkan dengan 250 milliyar rencana Presiden Bush untuk medorong bank Amerika untuk terus hidup. Proposal tersebut harus dilakukan segera mungkin – jika mememungkinkan tahun depan bila mendapatkan banyak dukungan.

Mekanisme pendanaan yang Greenpeace ajukan berbasis pada pendanaan daripada berbasis pasar – membiarkannya ke  pasar bebas, dan kami mencoba memberikan jalan untuk pemerintah keluar dari krisis iklim. Ini akan menghasilkan suatu skala yang besar dalam menghitungan dosa karbon (carbon Offseting). Dimana negara kaya dapat menggunakan kredit perlindungan hutan tanpa mereka melakukan sesuatu untuk menurukan emisi di negara mereka.

Dan itu adalah titik penting: sama seperti peelindungan pada hak-hak masyarakat adat dan kekaragaman hayati, apapun mekanisme pendanaan yang telah beroperasi harus bersama-sama menurunkan emisi lebih besar dan menghasilkan efisiensi energi bersih, yang berasal dari energi terbarukan.

Bagian dari tujuan pelayaran kami adalah untuk mempromosikan usulan kami forest for climate. Ketika kami sampai di Jakarta, kami akan mengadakan pertemuan dengan Gubernur Papua dan Aceh, Para menteri dan perwakilan dari pemerintah internasional untuk membahas usulan kami dan mendapatkan dukungan mereka. Dan memastikan masih ada hutan yang tersisa untuk di lindungi, kami masih ingin pemerintah Indonesia untuk segera melakukan moratorium untuk semua konversi hutan sementara penataan bagaimana untuk melindungi hutan selamanya.

Jika Anda bisa klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang “Forest for Climate”

ditulis oleh Jamie diatas kapal Esperanza

Leave a comment »