Posts tagged Hutan

Perkebunan Kelapa Sawit Raksasa Menghancurkan Taman Nasional di Kalimantan

the result of Sinar Mas' operations in Kalimantan © Greenpeace/Dithajohn

Membakar Hutan: Hasil pekerjaan Sinar Mas di Kalimantan © Greenpeace/Dithajohn

Saat ini Esperanza berlabuh di pelabuhan Singapura dan dalam beberapa hari akan ada operasi kapal — mengambil persedian dan mengisi bahan bakar, melakukan perawatan dasar, dan sebagainya. Dan aku sudah tidak lagi terlibat. Aku sudah turun ke darat kemarin untuk membereskan beberapa urusan dari hotel di Little India. Setelah bermingu-minggu melakukan kerja-kerja kebersihan kapal setiap hari, aku punya perasaan aneh yang mendorongku untuk mengambil kain lap dan membersihkan kamar, yang pasti akan membuat bingung staf hotel

Di posting kemarin aku mengatakan bahwa kami masih punya satu tugas terakhir. Tugas itu adalah membeberkan satu lagi kejahatan lingkungan yang dilakukan Sinar Mas. Menyebrangi Laut Cina Selatan dari sini di Kalimantan Sinar Mas melakukan penggundulan hutan di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, di lahan basah diarea yang dilindungi International Ramsar Convention (Konvensi Ramsar Internasional), sebagai bagian dari kegiatan perluasan perkebunan kelapa sawit mereka. Daerah penyangga yang telah mengalami pembalakan itu sangat penting bagi integritas dan keanekaragaman hayati taman nasional, salah satu lahan basah terluas di Asia Tenggara dan rumah bagi ribuan jenis spesies satwa langka, termasuk macan tutul, orang utan dan sebagian besar populasi kera belanda (proboscis monkey).

Menurut pemberitaan, pada bulan Agustus 2008 Menteri Kehutanan telah membatalkan izin operasi 12 perusahaan di daerah tersebut, tujuh diantaranya milik Sinar Mas. Para pembalak telah melanggar peraturan perundangan konseravsi alam dan keanekaragam hayati, tapi alih-alih izinya dicabut, Sinar Mas malah terus melakukan penggundulan hutan disekitar taman nasional, yang menunjukkan sikap yang terang-terangan meremehkan peraturan dan perundangan serta perjanjian konservasi internasional. Dan ini adalah perusahaan yang sama yang berada di balik muatan minyak kelapa sawit yang kami blokir minggu lalu di Dumai.

Semua ini terjadi di depan hidung Roundtable Sustainable Palm Oil atau RSPO. Sinar Mas adalah anggota RSPO dan menurut prinsip dan kriteria yang ditetapkan organisasi ini bagi anggotanya, seharusnya perusahaan ini tidak melakukan penggundulan hutan. Tetapi ini tetap dilakukan, karena para eksekutifnya tahu bahwa sesungguhnya menjadi anggota RSPO bukan sesuatu yang istimewa, dan mereka akan terbebas dari ancaman hukuman. Bukankah kini saatnya bagi RSPO untuk mulai bersikap tegas menegakkan prinsip dan kriteria mereka sendiri dan mencabut keanggotaan perusahaan seperti Sinar Mas yang jelas-jelas tidak peduli pada dampak operasi mereka terhadap lingkungan

Ini tidak hanya terjadi di Kalimantan. Beradasarkan dokumen internal yang kami peroleh, Sinar Mas berencana ‘membangun’ wilayah yang luas di hutan Papua yang telah kami kunjungi. Pembukaan hutan dalam skala besar telah dilakukan di dekat Jayapura dan wilayah seluas hingga 2,8 juta hektar telah dicadangkan untuk perkebunan kelapa sawit, kebanyakan wilayah tersebut adalah hutan dan lahan gambut.

Pertemuna tahunan RSPO akan dimulai besok di Bali, sehingga kami mengeluarkan informasi ini untuk menyorot ketiadaan komitmen organisasi ini terhadap kriteria yang dibuatnya sendiri. Beberapa saat setelah itu, dialog tentang perubahan iklim akan diselenggarakan di Polandia bulan depan sebagai langkah lebih lanjut dari Protokol Kyoto. Perlindungan terhadap hutan harus menjadi bagian yang penting pada kedua pertemuan ini, dan Pemerintah dapat membantu dengan menjadi tauladan lewat penerapan moratorium atas penggundulan hutan, dan ini juga untuk mengingatkan kamu untuk menulis kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memintanya melakukan hal tersebut.

Dikirim oleh Jamie di Singapore

http://www.ramsar.org/

Iklan

Comments (3) »

bye bye tweety

All packed up and ready to go © Greenpeace/Woolley

Semua sudah di bungkus dan siap berangkat © Greenpeace/Woolley

Beberapa hari mendatang, seiring berakhirnya pelayaran ini, orang-orang secara bertahap akan meninggalkan Esperanza dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun anggota pertama yang meninggalkan kapal bukanlah awak kapal, tapi Tweety, helikopter yang selama tiga bulan terakhir telah menerbangkan banyak orang di atas hutan dan perkebunan di Indonesia dan Papua New Guinea.

Untuk tweety, ini bukan saja menandai akhir dari pelayaran di seluruh Asia Tenggara, tapi juga akhir karirnya di Greenpeace. Setelah 25 tahun mengabdi bersama Greenpeace, dia akan dibungkus dan akan dikirim untuk diperbaruhi, tapi dia tidak akan kembali bekerja untuk Greenpeace.

Tweety telah menjadi bagian penting berbagai ekspedisi di laut selatan yang pada saat itu melacak kapal penangkap paus milik Jepang. Melihatnya diangkut keluar dari Esperanza dan bagian-bagian darinya naik ke atas kapal barang yang menunggu adalah akhir dari sekelumit sejarah Greenpeace bersamanya.

Comments (4) »

Selamat tinggal kota kelapa sawit

Setelah memberi Isola Corallo salam perpisahan, kami akhirnya meninggalkan Dumai. Kami melakukan semuanya sesuai rencana (bisajadi malah lebih dari yang direncanakan), dan kami berhasil mendapatkan sorotan nasional dan internasional tentang permasalahan yang terkait dengan cara produksi kelapa sawit di Indonesia. Seperti yang saya tulis di posting sebelumnya, perusahaan kelapa sawit raksasa, Sinar Mas, berhasil kami buat tercenang dengan seluruh aksi yang kami lakukan, meskipun juru kampanye kami sepakat bertemu mereka minggu depan di Bali, kami tidak akan berhenti membeberkan kehancuran yang telah mereka lakukan (juga oleh perusahaan lain) di hutan dan lahan gambut.

Sore ini kami sampai di Singapura, yang merupakan persinggahan terakhir kami. Pelayaran ini tengah mendekati puncaknya, tetapi  belum mencapai titik akhir – kami masih punya satu tugas lagi, tetapi Anda harus bersabar menunggu hingga hari Senin untuk mengetahuinya.

Sementara itu, sekedar mengingatkan jajak-pendapat oleh harian the Jakarta Post tentang apakah aksi kami dapat dibenarkan? Sebagian dari pendapat yang masuk telah dimuat di situs internet mereka, sebagian besar pendapat menyatakan dukungan dan membenarkan tindakan kami. Saya ucapkan terimakasih jika Anda telah berpartisipasi melalui email atau SMS – tetapi Anda dapat melakukan hal yang lebih baik lagi dengan menyurat kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, agar segera menghentikan penghancuran hutan di negerinya.

Leave a comment »

Pendapat anda tentang pemblokiran kapal pengangkut minyak kelapa sawit?

The Jakarta Post surat kabar berbahasa Inggris utama di Indonesia, meminta pembacanya memberikan pendapat tentang aksi kami baru-baru ini di Dumai:

Greenpeace melakukan memblokir beberapa kapal pengangkut minyak kelapa sawit, mencegah mereka sebelum meninggalkan Indonesia dan mendesak berhentinya pengrusakan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Apa pendapat Anda? Kirim pendapat anda melalui SMS ke +62 81118 72772 atau melalui email. readersforum@thejakartapost.com, Tolong cantumkan nama dan kota anda.

kami berharap anda bisa ikut dalam jajak pendapat itu.

Sementara itu, nikmati video pendek dari kegiatan beberapa hari belakangan. Video ini dibuat untuk dikirim ke jaringan televisi dan media, tapi andapun bisa ikut merasakan bagaimana rasanya berada disana saat itu.

Comments (6) »

Selamat Datang di Dumai

Surveying the ships anchored in Dumai port © Greenpeace/Woolley

Memantau kapal di pelabuhan Dumai © Greenpeace/Woolley

Hari ini pagi-pagi sekali , Kami menarik jangkar dan meninggalkan Sungai Pakning untuk meneruskan perjalanan selanjutnya di bagian sumatra menuju Dumai. Perjalanan hanya menempuh beberapa jam saja dan pemandangannya tidak banyak berubah : Kami melepas jangkar di sebuah selat yang gelap di antara dataran dan kumpulan pulau-pulau, saat ini sedikit lebih luas dan pelabuhannya lebih besar. Ya jauh lebih besar, Karena Dumai adalah pelabuhan kedua terbesar untuk ekspor minyak kelapa sawit; Pelabuhan Belawan di Medan adalah yang terbear dan juga berada di Sumatra.

Tugas kita di sini adalah untuk memantau ekspor minyak kelapa sawit, memeriksa kapal yang sedang memuat kelapa sawit dan kemana mereka menuju. Dumai merupakan pelabuhan yang ramai dengan beberapa kapal kontainer besar menunggu bongkar dan memuat barang-barang mereka. Banyak dari mereka melakukan pengiriman dengan tujuan pasar Eropa, China dan beberpa tempat lain, maka Dumai merupakan tempat penting dalam rantai ini, menghubungkan langsung pengrusakan hutan-hutan di Indonesia dengan supermarket dan pos-pos minyak dibelahan dunia yang lain.

Tetaplah membaca dan saya akan memberitahukan anda apa yang kami temukan

Di tulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Leave a comment »

Pembabatan dan Pembakaran Hutan di Riau

Now you see it...

Sekarang, Lihatlah ini....

Kami tiba di Sungai Pakning, dermaga kecil di daerah pesisir Riau, Sumatra dan Esperanza berlabuh di sebuah terusan berlumpur  yang mengalir diantara daratan utama dan dua pulau, Pulau Bengkalis dan Pulau Padang. Air kental yang mengalir pelan melewati kapal akan bermuara di Sungai Siak, yang tepi pantainya hanya beberapa mil kearah selatan.

Sungai Pakning mungkin merupakan dermaga kecil, tapi dimana-mana terlihat banyak tanda atas apa yang terjadi di pedalaman pulau tersebut. Kapal kontainer besar berlabuh dengan tenang menunggu muatan mereka dan api diatas kilang minyak menyinari langit malam hari. Kami berada di ujung wilayah perkebunan-perkebunan besar yang  mendominasi daerah ini, keduanya adalah perkebunan kelapa sawit yang telah banyak kita lihat dan pepohonan Akasia yang telah dipanen untuk dijadikan Pulp and Paper (bubur kertas)

Semua perkebunan ini berada di wilayah yang dulunya hutan dataran rendah yang lebat,dengan aliran air yang berasal dari lahan gambut. Tentu saja saat ini hutannya sudah hilang, gambut sudah dikeringkan dan dibakar, menyebabkan kabut asap tahunan menyelubungi Asia Tenggara selama masa pembakaran. Pembabatan, pengeringan dan pembakaran telah melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang besar dan berkontribusi menempatkan Indonesia diposisi tiga dalam table emisi global

Tweety telah melaju dalam misi pemantauan yang lebih dalam. Cuaca Hujan telah membuat kami frustasi tapi John dan Kasan — juru foto dan juru kamera yang kami dihormati-telah membuat beberapa gambar diatas semenanjung Kampar. Kami secara khusus tertarik pada wilayah ini karena mempunyai hutan rawa terakhir yang luas dan disinilah pada tahun lalu Kamp Pembela Hutan membangun bendungan dan memasang banner.

….Sekarang tidak lagi.  Tidak terlalu lama sebelum gambar ini diambil, hutan alami berdiri di wilayah itu.

...now you don't. Until shortly before this picture was taken, pristine forest stood in that spot

...sekarang kamu tidak bisa lagi melihatnya. sebelum foto ini di ambil, hutan itu masih ada di sana.

Menyedihkan, ini bukan berita baik. Seperti yang dapat kau lihat pada gambar diatas, buldoser membersihkan wilayah hutan yang masih tersisa, pikirkan ini: beberapa hari (bahkan jam) sebelum kamera kami berada disana, sebagian lahan masih ditutupi hutan yang mungkin telah ada disana selama ribuan tahun. Sekarang semuanya hilang, membawa serta kehidupan alam liar, tumbuh-tumbuhan dan memindahkan semua hal yang memungkinkan komunitas lokal dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Itu terjadi ketika helikopter terbang sesaat lalu dan masih terjadi ketika anda membaca ini.

Di dalam semanjung terdapat secuil hutan gambut yang dilindungi, tapi ketika detail peta wilayah dilihat dengan cepat, terungkaplah bahwa wilayah tersebut dikepung oleh perkebunan dan penebangan kayu glondongan yang konsensinya dimiliki oleh perusahaan seperti Duta Palma, Asian Agri dan Asia Pulp and Paper (APP anak perusahaan raksasa kelapa sawit Sinar Mas), dan dengan maraknya pembalakan liar tidak ada jaminan wilayah ini akan tetap tidak tersentuh. Mereka adalah perusahaan yang juga merupakan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil yang secara teori tidak seharusnya merusak lingkungan seperti itu.

Banyak hutan Sumatra dimusnahkan. Seperti yang aku ketahui dalam seminar yang kami selenggarakan di Jakarta minggu lalu, Riau dulunya dipenuhi oleh pepohonan, tapi itu sudah dimusnahkan dan digantikan oleh perkebunan kelapa sawit dan pohon akasia untuk bubur kertas (pulpwood and Paper). Jadi jika itu bukan masalah? Kenapa menyusahkan diri berusaha menyelamtkan beberapa wilayah kecil? Karena taruhannya besar. Kedalaman gambut yang tersisa di semenanjung Kampar mencapai 15 meter, jadi banyak karbon yang tersimpan disana. Jika semuanya akan dikonversikan menjadi tanaman sejenis yang tiada habisnya, maka kita akan melepaskan gas rumah kaca yang nilainya setara dengan emisi global selama setahun

Beberapa minggu lalu, aku melihat hutan Papua dan Papua Barat dirusak oleh penebangan untuk pembuatan jalan dan beberapa perkebunan, tapi secara keseluruhan mereka tidak terganggu. Di Sumatera sini, kebalikannya yang terjadi, dan takdir hutan disini dapat terjadi di Papua

Kami akan berada disekitar sini selama beberapa hari untuk melakukan beberapa penelitian. Aku akan beritahu apa yang kami temukan. Sementara itu, ini adalah beberapa foto selama dua hari ini.

A bulldozer moves alongside canals used to drain peatland by palm oil company Duta Palma

Buldozer perusahaan kelapa sawit duta palma berada di sepanjang kanal untuk mengeringkan lahan gambut

more devastation on Duta Palma land

mengambil yang tersisa : kehancuran yang telah dilakukan Duta Palma

Oil palms stretching as far as the eye can see - another Duta Palma creation All images © Greenpeace/Novis

kelapa sawit terlihat sejauh mata memandang - Duta palma melakukan semua ini © Greenpeace/Novis

di tuliskan Jamie dari Esperanza

Comments (2) »

Manusia di Atas Langit

Shaun in flight © Greenpeace/Rante

Shaun di dalam helikopter © Greenpeace/Rante

Seseorang yang telah mengambil bagian dalam seluruh penelitian kami bersama helikopter Tweety, tentu saja  sang pilot . Shaun (Dingo pangilan di Kapal)  telah melakukan misinya selama di Indonesia dan Papua Nugini. Dan saat ini, dia cukup baik dalam memperbandingakan ke dua wilayah  antara Papua Nugini dan Indonesia.

Siapa saja yang telah melakukan penerbangan  dan apa yang mereka lihat?

Sering sekali dengan Bustar, Juru Kampanye hutan. Ia juga melakukan penerbangan dengan para wartawan untuk memastikan bahwa ia memberikan penjelasaan tentang area yang di lihat. Seperti tentang pembalakan apa saja yang sedang terjadi atau apakah itu benar-benar hutan asli dan tentunya untuk dokumentasi. Saya pun melakukan penerbangan dengan photographer dan videographer untuk dokumentasi.

Anda juga melintasi  hutan papua nugini saat kapal  Esperanza berada di sana beberapa minggu yang lalu. Apakah anda memperhatikan ada perbedaan di kedua sisi pulau ini?

Perbedaan utama  antara Papua dan Papua Nugini adalah perbedaan besaran  populasi. Di Papua Nugini, masyarakat adat lebih banyak tersebar di dalam hutan dan sepanjang sungai. Sedangkan di Papua, mereka seolah-olah hanya bermukim di kawasan permukiman dan menjadi lebih modern dengan rumah-rumah yang terbuat dari atap timah, berada di pinggir jalan. Ini benar-benar sesuatu yang tidak biasa.

Penerbangan yang paling berkesan selama ini?
Sebagian besar penerbangan sangat berkesan dengan melihat pemandangannya yang sangat luar biasa. Tentu saja, Papua New Guinea dengan semua pegunungan dan semua alamnya, dan juga di Papua yang juga memiliki pegunungan dan hutan yang sama, tetapi  tidak begitu banyak kegiatan pembalakan di Papua.  Tetapi  pantai di sepanjang Papua sangat indah – pantai yang alami, terumbu karang, dan serta gugusan pulau-pulau.

Apakah perbedaan mendaratkan helikopter diatas kapal dengan di lahan?
Ada perbedaan yang sangat besar.  Angin menjadi penentu paling utama,  tetapi umumnya ia menjadi penentu di lapangan – Anda tahu di mana angin berhembus dan anda mendarat di tempat yang pastikan.  Tetapi dengan kapal, yang selalu bergerak dan harus memposisikan helikopter secara benar. Dan juga berharap landasan tidak bergerak karena terlalu banyak gelombang besar.

pada pelayaran ini saya merasa cukup mudah karena gelombang laut yang tenang tetapi saja juga pernah mendaratkan dengan buruk dan macet. Dan hal yang sangat menyedikan yaitu ketika akan memasukkannya ke dek di saat kapal banyak bergerak dan membuat pusing, dan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa.  Bahkan terkadang saat akan medarat dan helikopter bergerak kekanan dan kekiri secara tidak menentu dan membuat anda berfikir ” Woah, Ada apa ini?” Hal itu tentu saja merupakan situasi yang berbeda.

Dengarkan wawancara dengan shaun`s yang telah melakukan penerbangan di pulau nugini

Comments (1) »