Pendapat anda tentang pemblokiran kapal pengangkut minyak kelapa sawit?

The Jakarta Post surat kabar berbahasa Inggris utama di Indonesia, meminta pembacanya memberikan pendapat tentang aksi kami baru-baru ini di Dumai:

Greenpeace melakukan memblokir beberapa kapal pengangkut minyak kelapa sawit, mencegah mereka sebelum meninggalkan Indonesia dan mendesak berhentinya pengrusakan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Apa pendapat Anda? Kirim pendapat anda melalui SMS ke +62 81118 72772 atau melalui email. readersforum@thejakartapost.com, Tolong cantumkan nama dan kota anda.

kami berharap anda bisa ikut dalam jajak pendapat itu.

Sementara itu, nikmati video pendek dari kegiatan beberapa hari belakangan. Video ini dibuat untuk dikirim ke jaringan televisi dan media, tapi andapun bisa ikut merasakan bagaimana rasanya berada disana saat itu.

Comments (6) »

Berita terbaru: Pemanjat rantai jangkar kapal dibebaskan

Berita terbaru kami yang cukup menyenangkan: pemanjat kami telah dibebaskan tanpa tuntutan, tidak dari polisi, dari Wilmar ataupun dari Gran Couva

Kami juga diminta untuk segera meninggalkan Dumai, tapi kami masih tetap di sini.

Leave a comment »

Pemanjat itu diturunkan, di depan polisi, banyak penonton dan penjual buah

A policeman pushes a Greenpeace climber down from the anchor chain of the Gran Couva © Greenpeace/Novis

polisi memaksa pemanjat itu turun dari rantai jangkar kapal Gran Couva © Greenpeace/Novis

Saya berharap kami berhasil mempertahankan pendudukan rantai jangkar setidaknya selama 24 jam dan pagi ini tampaknya kami akan berhasil. Tetapi pada akhirnya kurang 40 menit, karena pada jam 12.45 siang pemanjat kami diturunkan dari Gran Couva dan diangkut oleh polisi. Pada akhirnya, aksi kami berhasil memperlambat keberangkatan kapal Gran Couva untuk memuat minyak kelapa sawitnya, ditambah kami berhasil membuat keributan besar pada tingkat pemberitaan media lokal, nasional dan internasional tentang hubungan antara perdagangan minyak kelapa sawit dan pembukaan hutan.

Menurut koordinator logistik kami, Ric yang berada di tempat kejadian, kapal polisi berkumpul sejak pagi hari kira-kira berjumlah sekitar 60 orang. Mereka menunggu di bawah rantai jangkar. Kapal polisi sempat mengalami kecelakaan ketika masuk, bertabrakan dengan Gran Couva sebelum akhirnya mundur ke jarak aman. Kerumunan bertambah dengan datangnya kapal pompong yang menjual nanas, buah-buahan, bawang merah dan barang-barang kebutuhan lainnya, terlihat seperti toko-toko terapung kecil dan juga seperti sekumpulan penonton yang sedang menonton drama pertunjukan.

Bustar negotiates with the harbour master © Greenpeace/Rante

Bustar melakukan negosiasi dengan petugas pelabuhan © Greenpeace/Rante

Bustar keluar dari Esperanza untuk berunding dan diperlakukan seperti selebriti kecil oleh polisi—mereka mengingatnya dari kedatangan Rainbow Warrior pada tahun lalu dan banyak yang ingin berfoto bersamanya. Bahkan sepertinya ada momen pemberian hormat.

Our climber surrounded by police © Greenpeace/Rante

Pemanjat Greenpeace di kepung para polisi © Greenpeace/Rante

Tapi dengan peringatan seperti, “tolong pemanjat anda segera turun dalam waktu 15 menit atau kami turunkan dia”, tidak ada ruang untuk negosiasi dan pada akhirnya, keputusan akhir berada pada pemanjat untuk tetap tinggal.

Sebuah usaha dilakukan untuk menurunkan rantai jangkar untuk mendekatkan pemanjat kami ke polisi, tapi dia justru bergerak semakin ke atas. Akhirnya seorang polisi memanjat rantai sampai dia berada di atas aktivis kami, lalu secara bertahap mendorongnya turun sampai polisi yang lain dapat melepaskan ikatan pemanjat kami. Dia kemudian dibawa oleh polisi dan aku diberitahu kalo dia baik-baik saja.

Gran Couva langsung meninggalkan pelabuhan Dumai untuk mengantarkan 27,000 metric ton minyak kelapa sawit sampai ke Rotterdam tiga minggu lagi. Kami telah diminta untuk meninggalkan pelabuhan ketika pemanjat kami ditahan. Kami akan tetap berada disini sampai beberapa waktu lagi.

Sementara, dengarkan percakapan antara kapten Madeleine dengan syahbandar pelabuhan ketika dia diminta agar pria dalam rantai jangkar dengan sukarela pindah ke kapal lain.

Comments (2) »

Hanya membutuhkan satu orang untuk menghentikannya

The hoses are turned on Adon, attached to the anchor chain of the Gran Couva © Greenpeace/Novis

The hoses are turned on Adon, attached to the anchor chain of the Gran Couva © Greenpeace/Novis

Kami telah memulai permainan kami di Dumai dan kembali setelah tahap meluklis pagi ini di kapal Gran Couva. Setelah kembali ke Esperanza untuk beristirahat, membersihkan perahu karet dan makan siang ( siapa bilang aksi tidak beradab), satu tim kembali menuju kapal tanker tapi kali ini aksi menggantung hanya dengan satu orang saja dan dia harus berada di rantai jangkar kapal tanker Gran Couva.

Adon on the chain © Greenpeace/Novis

Adon on the chain © Greenpeace/Novis

Salah satu teman kami Adon memanjat rantai dan menempatkan diri jadi mereka tidak bisa mengangkat jangkarnya. Ini menandakan kapal itu tidak bisa meninggalkan pelabuhan dan keadaan ini sangat tidak menyenangkan untuk Wilmar, Perusahan yang pemilik minyak kelapa sawit.

Ini seperti apa yang kami inginkan karena, Wilmar adalah anggota dari RSPO, tapi tidak ada tindakan berkelanjutan dari perusahaan yang melakukan perusakan hutan dan lahan gambut untuk menanam kelapa sawit.
Membuat awak kapal Gran Couva sangat semangat selang air tadi, ini bukan menjadi gangguan untuk Adon untuk mendapatkan posisi bagus tapi keadaan itu hanya berlangsung 30 menit

Dia tetap bergelantung di sana dan ucapan terimakasih untuk kemampuan negosiasi dari Paul elektriksti kami. Dia ikut mendampingi di kapal karet tapi dengan kemampuan bahasa india yang dapat berkomunikasi dengan awak kapal yang membuat mereka menghentikan selang air tersebut.

Saat itu, Kami mendengar kabar dari kepala pelabuhan yang mengatakan bahwa kami harus segera menghentikan kegiatan kami dan polisi datang ke kapal tanker tersebut untuk melihat apa yang terjadi. Kita akan melihat apa yang akan terjadi, tapi sekarang Adon masih berada di rantai kapal dan Gran Couva tidak bisa pergi kemana-mana.

Comments (5) »

Cat baru untuk Kapal-Kapal Pengangkut Kelapa Sawit

Painting the Gran Couva, loaded with palm oil from Wilmar © Greenpeace/Novis

Menulis di Gran Couva, Yang memuat minyak kelapa sawit dari Wilmar © Greenpeace/Novis

Saat fajar menyingsing hari dan walaupun hari masih pagi ketika aku mengetik tulisan ini. Kami sudah keluar menuju pelabuhan Dumai dan memasang tulisan di tiga kapal dengan slogan lingkungan. Ketiganya bemuatan kelapa sawit dari perkebunan Riau, sama dengan yang telah kami lihat dari udara dan dari darat selama beberapa hari ini, jadi sangat pantas untuk dilumuri dengan tulisan ‘Forest Crime’ dan ‘Climate Crime’ dengan cat berwarna kuning terang.

Pemberhentian pertama kami dalam ‘tour pelabuhan’ kali ini adalah Gran Couva, kapal tanker besar bermuatan 27,000 metrik ton kelapa sawit milik perushaan raksasa Wilmar –perusahaan yang juga memiliki perkebunan yang pada Sabtu lalu dikelilingi oleh John dari udara– yang akan menuju Rotterdam, Belanda. Dua tim pengecat memulai awal yang hebat, menandai posisi huruf-huruf dan terhenti pada kata ‘Kejahatan’ Teriakan marah yang dilontarkan awak kapal Gran Couva tidak dapat menghalangi para pengecat dan tidak juga selang air yang dinyalakan kearah mereka. Sayangnya cat air tidak bertahan lama dan beberapa huruf mulai luntur.

Defying the water hoses © Greenpeace/Rante

Disemprotkan Air© Greenpeace/Rante

Tim dalam perahu karet kecil menuju buritan kapal mencoba keberuntungan mereka disana, tapi mereka berhadapan dengan selang air yang lebih banyak. Tim kedua dalam Susie Q melakukan lebih baik dan dapat menyelesaikan frase ‘Forest Crime’ di sisi lain simpul kapal. Melihat dari jarak dekat dalam kapal yang disediakan untuk media, aku terkesan dengan para pengecat yang membuatnya terlihat mudah, diantara selang air dan tugas menulis yang janggal dengan kuas roler.

Misi berhasil diselesaikan, saatnya menuju kapal bertikutnya, Smooth Sea yang dioperasikan oleh Musim Mas, satu lagi produsen besar kelapa sawit. Awak kapal kargo yang berkebangsaan Thailand ini (Tujuan: Yangon di Cina) lebih lambat memberikan respon sehingga para pengecat tidak mengalami masalah yang sama dua kali. The Victory Prima (membawa kelapa sawit untuk Sarana Tempa Perkasa) bersandar disebelahnya, untuk variasi para pengecat lalu menulis ‘Climate Crime’ di kapal itu. Awak kapal yang berada di anjungan bersikap lebih tenang, tersenyum dan melambaikan tangan ketika kami pergi, bahkan berterima kasih kepada kami karena menggunakan cat air.

Putting the finishing touches to the Victory Prima © Greenpeace/Novis

sentuhan akhir saat menulis di Victory Prima © Greenpeace/Novis

Pesan datang melalui radio memberikan izin untuk melakukan hal yang sama pada satu kapal lain, sebuah kapal barang bermuatan kayu meranti, aksi kali ini bertema kelapa sawit, tapi kayu gelondongan tidak dapat diacuhkan sebagai hasil dari peritiwa penggundulan hutan disini, jadi ini adalah permainan yang adil. Awak kapal yang kapalnya kami jambangi masih terjaga, tapi tampaknya senang menerima leaflets informasi kampanye yang kami berikan

Tidak ada tanda-tanda tanggapan dari pihak berwenang, karena terbakar keberhasilan ini, tim pengecat bersemangat untuk melakukan hal serupa kepada Gran Couva saat kembali ke Esperanza, tapi para awaknya bertindak cepat dengan selang pipa dan catnya tidak punya waktu untuk kering

Meskipun demikian, itu adalah aktivitas yang berhasil. Saat ini Empat kapal di geladak ditandai karena membawa barang-barang penghancur lingkungan dan aku masih dapat melihat slogan itu dari anjungan kapal Esperanza.

Comments (3) »

Selamat Datang di Dumai

Surveying the ships anchored in Dumai port © Greenpeace/Woolley

Memantau kapal di pelabuhan Dumai © Greenpeace/Woolley

Hari ini pagi-pagi sekali , Kami menarik jangkar dan meninggalkan Sungai Pakning untuk meneruskan perjalanan selanjutnya di bagian sumatra menuju Dumai. Perjalanan hanya menempuh beberapa jam saja dan pemandangannya tidak banyak berubah : Kami melepas jangkar di sebuah selat yang gelap di antara dataran dan kumpulan pulau-pulau, saat ini sedikit lebih luas dan pelabuhannya lebih besar. Ya jauh lebih besar, Karena Dumai adalah pelabuhan kedua terbesar untuk ekspor minyak kelapa sawit; Pelabuhan Belawan di Medan adalah yang terbear dan juga berada di Sumatra.

Tugas kita di sini adalah untuk memantau ekspor minyak kelapa sawit, memeriksa kapal yang sedang memuat kelapa sawit dan kemana mereka menuju. Dumai merupakan pelabuhan yang ramai dengan beberapa kapal kontainer besar menunggu bongkar dan memuat barang-barang mereka. Banyak dari mereka melakukan pengiriman dengan tujuan pasar Eropa, China dan beberpa tempat lain, maka Dumai merupakan tempat penting dalam rantai ini, menghubungkan langsung pengrusakan hutan-hutan di Indonesia dengan supermarket dan pos-pos minyak dibelahan dunia yang lain.

Tetaplah membaca dan saya akan memberitahukan anda apa yang kami temukan

Di tulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Leave a comment »

Mengungkap Fakta-Fakta tentang Kelapa Sawit kepada Masyarkat Cina

Shangwen gets ready to fly © Greenpeace/Maitar

Shangwen gets ready to fly © Greenpeace/Maitar

Kamp Pembela Hutan yang Kami bangun tahun lalu telah tiada dan begitupun Hutan yang tersisa

Aku melihat bentangan lahan yang rusak melalui lensa fotografer kami, John, dan dari gambar-gambar yang telah diabadikannya. Aku bisa merasakan penderitaan bumi kita dan hatiku merasa sakit ketika tidak dapat menangkap tangisan terakhir dari hutan yang dulu berdiri ditempat yang sama kita memasang banner, ada suara bergema ditelingaku: Bumi bukan milik manusia, manusia milik bumi. Akan jadi apa masa depan?

Bumi butuh suara. Hutan butuh suara. Aku percaya karena itulah kemarin, kami — sukarelawan Greenpeace dari seluruh dunia– berdiri ditengah pengrusakan , meskipun terkadang di dalam hati kita merasa putus asa. Kita harus membuat keputusan dan mengambil tindakan dari pada hanya berbicara sementara hutan sedang dihancurkan. Kita harus memahami ini: jika kita tidak dapat secepatnya menghentikan penggundulan hutan, kita akan kalah dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Dengan menghilangnya hutan, masa depan anak cucu kita pun akan turut menghilang. Ini bukan hanya masalah para politisi, para pemimpin industri bahkan bukan juga hanya masalah para aktivis lingkungan dan ilmuwan, ini adalah masalah kita semua.

Sebagai juru kampanye hutan Greenpeace Cina, aku berada disini bersama tiga wartawan Cina, bukan saja karena kami tahu bahwa saat ini kita adalah warga dari warga international, tapi juga karena kami mengerti kami bagian dari kejahatan penghancuran hutan, di Indonesia dan seluruh dunia. Kami tahu kami juga memikul beban tanggung jawab untuk menghentikan kejahatan ini. Cina adalah salah satu konsumen kelapa sawit terbesar di dunia yang kebanyakan diimport dari Indonesia dan Malaysia.

Journalist Hau Feng © Greenpeace/Maitar

Journalist Hua Feng © Greenpeace/Maitar

Ketika berdiri di depan Forest wall* dan menyaksikan kejahatan yang merusak ini, kami berharap untuk membawa kabar penting ini kepada rakyat Cina. Kami juga ingin mengirim pesan kepada perusahaan Cina yang menggunakan kelapa sawit-kalian adalah bagian dari masalah, karena para penyalur kalian mengabaikan sebagian besar, jika tidak semua, prinsip-prinsip lingkungan, menghancurkan lahan gambut dan memasang bom waktu pada perubahan iklim. Inilah saatnya bagi kalian untuk bertindak dan menghentikan ini.

Aku tahu ini bukan misi yang mudah. Aku mengerti kebanyakan konsumen Cina bahkan tidak tahu apa itu kelapa sawit dan digunakan untuk apa. Aku mengerti penghancuran ini terjadi jauh dari China dan emisi karbon dari tanah tidak dapat dilihat atau disentuh oleh warga Cina. Tapi aku tidak kehilangan keyakinan karena aku sungguh percaya pada apa yang dilakukan Greenpeace: melakukan tindakan untuk membuat perubahan yang positif

Dan aku tidak sendiri. Aku mempunyai seluruh tim Greenpeace Cina dan orang-orang dari seluruh kantor Greenpeace untuk berjuang bersamaku dan yang lebih penting, aku mulai mendengar suara dari warga Cina. Blog siaran langsung dalam website Tian Ya, yang diposting oleh dua wartawan yang ikut bersamaku, telah menerima lebih dari 100.000 klik dalam waktu seminggu dan kami mendapat ratusan komentar dan umpan balik postif. Aku tahu mereka adalah orang-orang yang dapat kita andalkan dalam perjuangan untuk bumi dan untuk memperjuangkan masa depan kita.

*forest wall adalah batas antara hutan yang masih lebat dengan yang sudah hancur akibat pembalakan atau dikonversi. Jika dilihat dari kejahuan terlihat seperti dinding karena dari depan terlihat masih banyak pohon-pohonnya.

Ditulis oleh Shangwen di atas kapal Esperanza

Leave a comment »