Archive for Uncategorized

Akhir perjalanan, tetapi bukan akhir dari kampanye

Jadi dengan bidikan terakhir untuk Sinar Mas, maka berakhirlah pelayaran Forests for Climate. Berawal dari Papua Nugini pada bulan Agustus, dimana kami menyaksikan keberadaan hutan tersisa di dunia yang menjadi inspirasi dan menanti sikap kita apakah kita mengizinkan perusahaan seperti Sinar Mas, Wilmar dan perusahaan lain untuk melakukan hal semena-mena atau para politisi yang memilih untuk tidak bertindak. Tetapi solusi sudah ada di tangan – moratorium deforestasi dalam jangka pendek, dan sebuah perjanjian internasional mengenai pendanaan perlindungan hutan untuk jangka panjang.

Pelayaran kapal mungkin telah berakhir tetapi kampanye kami terus berlangsung. Saya akan kembali ke Inggris untuk melakukan tugas saya dari sana, bersama usaha-usaha yang terus dilakukan di Cina, Belanda, Amerika Serikat dan tentu saja Indonesia dan Papua Nugini. Jika anda ingin bergabung silakan menjelajahi situs lokal kantor Greenpeace di negara masing-masing dan mendaftar untuk mendapat update email. Semakin banyak dukungan yang kami punyai, kami akan lebih cepat mencapai tujuan kami yaitu ZERO DEFORESTATION (menghentikan penggundulan hutan), tidak hanya di Asia Tenggara tetapi di seluruh dunia.

Saat ini banyak komentar yang ditulis pada jajak pendapat yang di buat koran Jakarta Post, jadi sepertinya anda masih dapat menambahkan pendapat anda.

ZERO DEFORESTATION – mari kita wujudkan itu.

Iklan

Comments (1) »

Hanya membutuhkan satu orang untuk menghentikannya

The hoses are turned on Adon, attached to the anchor chain of the Gran Couva © Greenpeace/Novis

The hoses are turned on Adon, attached to the anchor chain of the Gran Couva © Greenpeace/Novis

Kami telah memulai permainan kami di Dumai dan kembali setelah tahap meluklis pagi ini di kapal Gran Couva. Setelah kembali ke Esperanza untuk beristirahat, membersihkan perahu karet dan makan siang ( siapa bilang aksi tidak beradab), satu tim kembali menuju kapal tanker tapi kali ini aksi menggantung hanya dengan satu orang saja dan dia harus berada di rantai jangkar kapal tanker Gran Couva.

Adon on the chain © Greenpeace/Novis

Adon on the chain © Greenpeace/Novis

Salah satu teman kami Adon memanjat rantai dan menempatkan diri jadi mereka tidak bisa mengangkat jangkarnya. Ini menandakan kapal itu tidak bisa meninggalkan pelabuhan dan keadaan ini sangat tidak menyenangkan untuk Wilmar, Perusahan yang pemilik minyak kelapa sawit.

Ini seperti apa yang kami inginkan karena, Wilmar adalah anggota dari RSPO, tapi tidak ada tindakan berkelanjutan dari perusahaan yang melakukan perusakan hutan dan lahan gambut untuk menanam kelapa sawit.
Membuat awak kapal Gran Couva sangat semangat selang air tadi, ini bukan menjadi gangguan untuk Adon untuk mendapatkan posisi bagus tapi keadaan itu hanya berlangsung 30 menit

Dia tetap bergelantung di sana dan ucapan terimakasih untuk kemampuan negosiasi dari Paul elektriksti kami. Dia ikut mendampingi di kapal karet tapi dengan kemampuan bahasa india yang dapat berkomunikasi dengan awak kapal yang membuat mereka menghentikan selang air tersebut.

Saat itu, Kami mendengar kabar dari kepala pelabuhan yang mengatakan bahwa kami harus segera menghentikan kegiatan kami dan polisi datang ke kapal tanker tersebut untuk melihat apa yang terjadi. Kita akan melihat apa yang akan terjadi, tapi sekarang Adon masih berada di rantai kapal dan Gran Couva tidak bisa pergi kemana-mana.

Comments (5) »

Cat baru untuk Kapal-Kapal Pengangkut Kelapa Sawit

Painting the Gran Couva, loaded with palm oil from Wilmar © Greenpeace/Novis

Menulis di Gran Couva, Yang memuat minyak kelapa sawit dari Wilmar © Greenpeace/Novis

Saat fajar menyingsing hari dan walaupun hari masih pagi ketika aku mengetik tulisan ini. Kami sudah keluar menuju pelabuhan Dumai dan memasang tulisan di tiga kapal dengan slogan lingkungan. Ketiganya bemuatan kelapa sawit dari perkebunan Riau, sama dengan yang telah kami lihat dari udara dan dari darat selama beberapa hari ini, jadi sangat pantas untuk dilumuri dengan tulisan ‘Forest Crime’ dan ‘Climate Crime’ dengan cat berwarna kuning terang.

Pemberhentian pertama kami dalam ‘tour pelabuhan’ kali ini adalah Gran Couva, kapal tanker besar bermuatan 27,000 metrik ton kelapa sawit milik perushaan raksasa Wilmar –perusahaan yang juga memiliki perkebunan yang pada Sabtu lalu dikelilingi oleh John dari udara– yang akan menuju Rotterdam, Belanda. Dua tim pengecat memulai awal yang hebat, menandai posisi huruf-huruf dan terhenti pada kata ‘Kejahatan’ Teriakan marah yang dilontarkan awak kapal Gran Couva tidak dapat menghalangi para pengecat dan tidak juga selang air yang dinyalakan kearah mereka. Sayangnya cat air tidak bertahan lama dan beberapa huruf mulai luntur.

Defying the water hoses © Greenpeace/Rante

Disemprotkan Air© Greenpeace/Rante

Tim dalam perahu karet kecil menuju buritan kapal mencoba keberuntungan mereka disana, tapi mereka berhadapan dengan selang air yang lebih banyak. Tim kedua dalam Susie Q melakukan lebih baik dan dapat menyelesaikan frase ‘Forest Crime’ di sisi lain simpul kapal. Melihat dari jarak dekat dalam kapal yang disediakan untuk media, aku terkesan dengan para pengecat yang membuatnya terlihat mudah, diantara selang air dan tugas menulis yang janggal dengan kuas roler.

Misi berhasil diselesaikan, saatnya menuju kapal bertikutnya, Smooth Sea yang dioperasikan oleh Musim Mas, satu lagi produsen besar kelapa sawit. Awak kapal kargo yang berkebangsaan Thailand ini (Tujuan: Yangon di Cina) lebih lambat memberikan respon sehingga para pengecat tidak mengalami masalah yang sama dua kali. The Victory Prima (membawa kelapa sawit untuk Sarana Tempa Perkasa) bersandar disebelahnya, untuk variasi para pengecat lalu menulis ‘Climate Crime’ di kapal itu. Awak kapal yang berada di anjungan bersikap lebih tenang, tersenyum dan melambaikan tangan ketika kami pergi, bahkan berterima kasih kepada kami karena menggunakan cat air.

Putting the finishing touches to the Victory Prima © Greenpeace/Novis

sentuhan akhir saat menulis di Victory Prima © Greenpeace/Novis

Pesan datang melalui radio memberikan izin untuk melakukan hal yang sama pada satu kapal lain, sebuah kapal barang bermuatan kayu meranti, aksi kali ini bertema kelapa sawit, tapi kayu gelondongan tidak dapat diacuhkan sebagai hasil dari peritiwa penggundulan hutan disini, jadi ini adalah permainan yang adil. Awak kapal yang kapalnya kami jambangi masih terjaga, tapi tampaknya senang menerima leaflets informasi kampanye yang kami berikan

Tidak ada tanda-tanda tanggapan dari pihak berwenang, karena terbakar keberhasilan ini, tim pengecat bersemangat untuk melakukan hal serupa kepada Gran Couva saat kembali ke Esperanza, tapi para awaknya bertindak cepat dengan selang pipa dan catnya tidak punya waktu untuk kering

Meskipun demikian, itu adalah aktivitas yang berhasil. Saat ini Empat kapal di geladak ditandai karena membawa barang-barang penghancur lingkungan dan aku masih dapat melihat slogan itu dari anjungan kapal Esperanza.

Comments (3) »

Mengungkap Fakta-Fakta tentang Kelapa Sawit kepada Masyarkat Cina

Shangwen gets ready to fly © Greenpeace/Maitar

Shangwen gets ready to fly © Greenpeace/Maitar

Kamp Pembela Hutan yang Kami bangun tahun lalu telah tiada dan begitupun Hutan yang tersisa

Aku melihat bentangan lahan yang rusak melalui lensa fotografer kami, John, dan dari gambar-gambar yang telah diabadikannya. Aku bisa merasakan penderitaan bumi kita dan hatiku merasa sakit ketika tidak dapat menangkap tangisan terakhir dari hutan yang dulu berdiri ditempat yang sama kita memasang banner, ada suara bergema ditelingaku: Bumi bukan milik manusia, manusia milik bumi. Akan jadi apa masa depan?

Bumi butuh suara. Hutan butuh suara. Aku percaya karena itulah kemarin, kami — sukarelawan Greenpeace dari seluruh dunia– berdiri ditengah pengrusakan , meskipun terkadang di dalam hati kita merasa putus asa. Kita harus membuat keputusan dan mengambil tindakan dari pada hanya berbicara sementara hutan sedang dihancurkan. Kita harus memahami ini: jika kita tidak dapat secepatnya menghentikan penggundulan hutan, kita akan kalah dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Dengan menghilangnya hutan, masa depan anak cucu kita pun akan turut menghilang. Ini bukan hanya masalah para politisi, para pemimpin industri bahkan bukan juga hanya masalah para aktivis lingkungan dan ilmuwan, ini adalah masalah kita semua.

Sebagai juru kampanye hutan Greenpeace Cina, aku berada disini bersama tiga wartawan Cina, bukan saja karena kami tahu bahwa saat ini kita adalah warga dari warga international, tapi juga karena kami mengerti kami bagian dari kejahatan penghancuran hutan, di Indonesia dan seluruh dunia. Kami tahu kami juga memikul beban tanggung jawab untuk menghentikan kejahatan ini. Cina adalah salah satu konsumen kelapa sawit terbesar di dunia yang kebanyakan diimport dari Indonesia dan Malaysia.

Journalist Hau Feng © Greenpeace/Maitar

Journalist Hua Feng © Greenpeace/Maitar

Ketika berdiri di depan Forest wall* dan menyaksikan kejahatan yang merusak ini, kami berharap untuk membawa kabar penting ini kepada rakyat Cina. Kami juga ingin mengirim pesan kepada perusahaan Cina yang menggunakan kelapa sawit-kalian adalah bagian dari masalah, karena para penyalur kalian mengabaikan sebagian besar, jika tidak semua, prinsip-prinsip lingkungan, menghancurkan lahan gambut dan memasang bom waktu pada perubahan iklim. Inilah saatnya bagi kalian untuk bertindak dan menghentikan ini.

Aku tahu ini bukan misi yang mudah. Aku mengerti kebanyakan konsumen Cina bahkan tidak tahu apa itu kelapa sawit dan digunakan untuk apa. Aku mengerti penghancuran ini terjadi jauh dari China dan emisi karbon dari tanah tidak dapat dilihat atau disentuh oleh warga Cina. Tapi aku tidak kehilangan keyakinan karena aku sungguh percaya pada apa yang dilakukan Greenpeace: melakukan tindakan untuk membuat perubahan yang positif

Dan aku tidak sendiri. Aku mempunyai seluruh tim Greenpeace Cina dan orang-orang dari seluruh kantor Greenpeace untuk berjuang bersamaku dan yang lebih penting, aku mulai mendengar suara dari warga Cina. Blog siaran langsung dalam website Tian Ya, yang diposting oleh dua wartawan yang ikut bersamaku, telah menerima lebih dari 100.000 klik dalam waktu seminggu dan kami mendapat ratusan komentar dan umpan balik postif. Aku tahu mereka adalah orang-orang yang dapat kita andalkan dalam perjuangan untuk bumi dan untuk memperjuangkan masa depan kita.

*forest wall adalah batas antara hutan yang masih lebat dengan yang sudah hancur akibat pembalakan atau dikonversi. Jika dilihat dari kejahuan terlihat seperti dinding karena dari depan terlihat masih banyak pohon-pohonnya.

Ditulis oleh Shangwen di atas kapal Esperanza

Leave a comment »

Menelusuri Hutan Hingga Perbatasan

holding out the banner in the Kampar peninsula © Greenpeace/Novis

dengan latar belakang perbatasaan hutan : membentangkan spanduk di semenanjung kampar© Greenpeace/Novis

Saya sudah mengosok dan membersihkan tapi tetap saja masih ada sisa lumpur yang melekat di badan. Ini memang kesalahan saya – seharusnya saya tidak berada di lahan gambut Riau. Tetapi Gambar di atas – Itu Kami : beberapa dari awak Esperanza dan sukarelawan dari Indonesia membentangkan spanduk besar tepat di perbatasan hutan (forest wall), suatu garis lurus yang memisahkan ekosistem dan pohon-pohon yang telah habis di babat. Dalam kegiatan itu saya tepat berada di atas huruf P pada tulisan STOP.

Kami memulai kegiatan ini pada pagi hari dan menempung perjalanan panjang untuk menyusuri semenanjung Kampar, Kami menunjuk PT. arara Abadi-Siak karena perizinan dari perkebunan pohon akasia yang digunakan untuk membuat pulp and paper. Perusahaan ini adalah salah satu anak perusahaan dari Asia Pulp and Paper (APP) yang juga merupakan teman-teman dari Sinar Mas – yang juga mempunyai kekuasaan pada pulp and paper, Sinar Mas merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, dan (mereka adalah anggota RSPO) mereka banyak memiliki perkebunan di dekat sini.

Holding on to the banner

Memegang Spanduk© Greenpeace/Sharomov

Menyusuri jalan sungai pakning sangat menyenangkan – rumah-rumah kayu yang elegant di antara rimbunan hijau dan anak-anak yang bersepeda ke sekolah. Tetapi setelah melewati sungai siak dengan kapal fery, kami betul-betul berada di perkebunan. Barisan kelapa sawit berjajar di sepanjang jalan yang rusak dan buah kelapa sawit tergeletak di pinggir jalan. Berjalan sepanjang perbatasan, hutan alam asli berada di sebelah kanan sementara jajaran pohon kelapa sawit muda tepat di ujung mata sebelah kiri saya. Perbatasan dengan hutan yang tebal ini terlihat seperti garis biru di langit dan sepanjang jalan yang kami lewati.

Lokasi yang kami pilih dengan kotoran yang sangat tebal, jadi kami harus memanjat dengan susah payah kedaerah yang agak rusak di sana. Pohon-pohon yang mati dan tanah yang bejek adalah jalan yang kami tempuh, sudah tak terhitung berapa kali saya terjatuh di air gambut yang hitam. Saat kegiatan berakhir, sebagian besar dari kami penuh dengan lumpur hingga lutut kami. Kebanyakan tumbuh disini adalah phon akasia yang dulunya adalah hutan yang lebat.

Membentangkan spanduk dengan ukuran 40x 20 tidaklah mudah, diperlukan 20 orang untuk membukanya, menarik dan menguatkannya. Sementara kami menunggu juru kamera mengambil gambar, saya melihat sekeliling. perbatasan hutan hanya berjarak 20 meter di belakang saya, hutan yang lebat dan dedaunan.

Saya berharap mendapat kesempatan melihat kesana walaupun hanya beberapa menit saja, sedihnya itu tidak bisa terlaksana tapi kicauan burung dan serangga berterbangan di seluruh lahan yang kosong. Lahan gambut yang sangat memukau adalah tempat satwa liar dengan salah satu tingkat keanekaragaman tertinggi di Indonesia dan beberapa dari mereka menghampiri kami di atas spanduk. Capung dan kupu-kupu besar datang keatas spanduk kami dan berputar-putar kami tidak mengusirnya ini sangat menarik terutama untuk saya. Ini membuat keringat saya terus menetes (mereka tidak mungkin kan meminumnya )

A graveyard of roots

Akar pepohonan© Greenpeace/Sharomov

Di depan saya, ada suatu cerita yang berbeda. Dari sebuah lahan gambut yang berwarna abu-abu kecoklatan, dengan akar-akarnya yang menengadah dan terpapar ke udara, dan batang akar akar yang menguatkannya. Di tempat yang lain, forests wall terbentang suatu kumpulan kecil dengahn rimbunan hijau berada diantara jalan dan lahan gambut, tapi tidak ada yang tahu berapa lama ini akan bertahan. Terdapat dua perbedaan dan hutan yang anda lihat di foto itu juga di hancurkan PT. Arara Abadi-Siak. Mereka hanya belum menghancurkannya.

Sebuah nama Jikalahari yang tertulis di banner bersama dengan Greenpeace adalah sebuah jaringan kerja sama untuk penyelamatan hutan yang berkelanjutan dan hak-hak masyarakat adat di Riau. Greenpeace telah bekerja sama dengan Jikalahari sangat erat. Kemarin kami mengelar jumpa press bersama di atas kapal. Dengan tujuan untuk mendorong terjadinya moratorium di Indonesia dan mendukung yang telah menyatakan untuk memberlakukannya

Wan Abubakar, Gubernur Riau, telah membuat keputusan untuk moratorium di Riau. Perlu adanya tindakan dari pemerintah nasional untuk mensyahkan keputusan tersebut dan kami (Greenpeace dan Jikalahari) mencoba untuk mewujudkannya dengan pemetaan hutan dan perkebunan di semenanjung Kampar, dengan banyaknya penerbangan yang kami lakukan helicopter kami sangat membantu. Dengan peta ini, kita dapat membuat daerah yang harus melindungi dan yang berpotensi untuk dikembalikan, dan tentu saja moratorium di Riau akan memberi tekanan tambahan untuk diberlakukan di seluruh Indonesia.

Carrying the banner alongside a canal draining water from the peatlands

Membawa Banner sepanjang kanal yang airnya berasal dari pengeringan lahan gambut© Greenpeace/Sharomov

Tetapi kembali di lapangan, kami membentangkan dan mengulungnya kembali sebelum tertangkap petugas keamanan perusahaan. Mereka tidak tertarik untuk mengambil foto, tetapi tentu saja mereka telah dilatih dengan ponsel kameranya. Setelah beberapa negosiasi oleh juru kampanye kami, kami kempali ke perkebunan lalu berjalan menuju kapal dengan jorok, lelah dan senang.

Namun, saya masih tidak habis berfikir tentang perbatasan hutan yang tadi ada di sebelah saya akan berapa lama mereka bisa bertahan

Ditulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Leave a comment »

Industri kelapa sawit ditutupi greenwash

The handiwork of Sinar Mas, an RSPO member © Greenpeace/Rante

Anggota RSPO sinar mas telah mengerjakan ini © Greenpeace/Rante

Kabut di Jakarta perlahan menghilang dari pandangan dan saat kami sedang berlayar menuju pulau Sumatera. Pulau keenam terbesar di dunia dan rumah bagi spesies langka seperti harimau Sumatera, Badak Sumatera dan tentu saja orangutan. Kami tidak akan mungkin berkesempatan bertemu salah satu dari mereka tetapi yang pasti kami temui adalah – perkebunan kelapa sawit yang sangat luas dan perkebunan yang digunakan untuk bubur kertas di mana hutan dan lahan gambut yang digunakan.

Dan kami melintas khatulistiwa besok pagi. Mengingatkan saya pada pengalaman jika pelayaran Greenpeace melintasi garis khatulistiwa sebelumnya, saya sangat bersemangat dengan apa yang akan terjadi…

Berbicara tentang minyak kelapa sawit, Anda mungkin sudah mendengar sebuah organisasi bernama RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan dari nama itu, Anda mungkin berpikir bahwa seluruh masalah tentang  kelapa sawit, jika tidak terselesaikan, maka setidaknya sudah di bicarakan. Tentu saja, jika tidak ada masalah kami tidak usah repot-repot membawa Esperanza ke Indonesia untuk melakukan protes tentang kerusakaan hutan yang terjadi yang di sebabkan oleh industri kelapa sawit.

Didirikan pada tahun 2001, RSPO dirancang untuk mengatur standarisasi etika dan ekologis untuk produksi kelapa sawit, sehingga tidak ada bisa mencuri lahan mereka atau merusak hutan mereka. Di Situs RSPO sendiri menuliskan terjadinya suatu masalah :

“… ada masalah serius bahwa tidak semua minyak kelapa sawit di produksi secara berkelanjutan saat ini.  Pengembangan perkebunan baru yang mengakibatkan konversi kawasan luas hutan dengan nilai konservasi tinggi dan telah mengancam kekayaan keanekaragaman hayati di ekosistem ini …perluasaan  perkebunan kelapa sawit juga menimbulkan konflik sosial antara masyarakat lokal dan proyek-proyek dalam banyak kasus. ”

Selama bertahun-tahun, daftar anggota-anggota mereka terus bertambah saat ini telah masuk nama-nama merek internasional terkenal seperti Unilever, Netle, Tesco dan cadbury serta perusahaan lain yang kurang terkenal – Cargill, ADM, Duta palma, Sinar Mas, Asian Agri dan banyak produsen minyak kelapa sawit lainnya serta para pedagang lainya adalah anggota organisasi ini. Pertemuan tahunan mereka akan diadakan beberapa minggu kedepan di Bali. Jadi jika industri kelapa sawit ini telah mempunyai kesadaraan bahwa mereka berpotensi menyebabkan kerusakaan baik di masyarakat dan pada lingkungan. Mengapa kita masih mencari bukti siapa perusak hutan? Beberapa minggu yang lalu, kami menemukan buldozer milik sinar mas tengah melakukan pembukaan lahan di dekat Jayapura, Papua dan Sinar Mas adalah anggota RSPO. Ini tentu saja ada suatu ketidak beresan?

Ada suatu dasar prinsip dari RSPO sendiri. Saat ini, dengan standar dan prinsip-prinsip yang kabur dan terlalu lemah untuk benar-benar baik dan kami telah melihat itu, beberapa anggotanya yang senang hati melakukannya di hutan alam dan lahan gambut yang kaya dengan karbon. Tidak ada hukuman atau cara apapun yang di lakukan RSPO, walaupun para anggota harus mematuhui kode etik (pdf) yang menyatakan”Sangat penting untuk suatu kejujuran, kredibilitas dan keberlanjutan dari RSPO bahwa setiap anggota mendukung, mempromosikan dan melakukan produksi, pengadaan dan penggunaan minyak kelapa sawit secara berkelanjutan. “kejujuran”Seperti apa atau “Kredibilitas” macam apa RSPO menutup mata ketika para anggota mereka melakukan pembukaan besar-besaraan di wilayah hutan atau melakukan pengeringan dan pembakaraan lahan gambut?

Hal ini bertambah parah. Ketika dilakukannya pengiriman pertama minyak kelapa sawit yang telah bersertifikat “berkelanjutan” oleh RSPO akan tiba di Eropa pada akhir bulan ini dari perkebunan Malaysia United.  Karena RSPO telah banyak mengeluarkan sertifikasi sekaligus toleransi dan mengasuhkan kerusakan hutan yang di ciptakan Sinar Mas dan teman-temannya, Organisasi ini benar-benar hanya sebuah tameng tebal untuk pencucian nama bagi para anggotanya untuk menjadi tampeng dirinya sendiri

Kami telah melakukan kerja keras melihat pencucian  (Greenwash) perusahaan  ini dan beberapa bukti dalam dua laporan kami di tahun lalu – mengoreng iklim dan membakar kalimantan – untuk menunjukan bahwa RSPO tidak bekerja dengan baik. Pada awal tahun ini kami juga meyakinkan perusahaan Unilever untuk berbuat lebih banyak. Banyak waktu kami habiskan di sumatera untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menunjukan susuatu yang  sangat jelas dan apa yang perlu dilakukan, Seperti segera menerapkan moratorium hutan di Indonesia, sementara masih ada hutan yang harus di jaga.

Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah satu-satunya yang dapat melakukan aksi moratorium ini – katakan kepadanya apa yang harus dialakukan untuk bangsa Indonesia.

Comments (3) »

Forests For Climate : skema besar perlindungan untuk hutan

With a scheme like Forests For Climate, intact forests would become more valuable than cash crops like palm oil © Beltra/Greenpeace

With a scheme like Forests For Climate, intact forests would become more valuable than cash crops like palm oil © Beltra/Greenpeace

Perubahan terjadi hari ini. Kami menyambut beberapa awak baru yang akan bergabung di pelayaran ini menuju sumatra dan lahan gambut di propinsi Riau. Setelah saya menemani satu dari dua orang dari mereka untuk berkeliling di Esperanza, jadi teringat pertama kali saya berada di sini tiga minggu yang lalu. Sulit di bayangkan bahwa kapal ini sekarang menjadi bagian dari hidup saya walaupun saya baru juga.

Kamu akan mengenal beberapa dari mereka di beberapa minggu mendatang tapi hari yang sangat besar adalah hari ini yang diharapkan menjadi puncak dari seluruh pelayaran ini. Di ruang VIP terminal penumpang pelabuhan Tanjung priok di Jakarta, Kami memaparkan proposal “Forest for Climate” yaitu suatu mekanisme pendanaan dari negara-negara yang  tela berkembang untuk mempertahankan hutan di Indonesia, Brazil dan di tempat lain, dengan harapan dapat menghentikan deforestasi di seluruh dunia.  Saya mencari sedikit demi sedikit dan melahap proposal ini beberapa minggu lalu, tapi ini sesuatu pekerjaan yang sangat rumit  jadi ini sesuatu yang sangat penting dan akan ada rinciannya nanti.

Acara yang di selenggarakan bersama menteri lingkungan hidup, Rachmat Witoelar yang membuka acara ini. ” perubahaan iklim  tidak dapat kita hentikan jika kita tetap melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasa,” Ungkapnya, dan menambahkan bahwa ia mau indonesia bergerak menurunkan karbon serta dapat memecahkan masalah kemiskinan yang sebagian besar masyarakat kita.

Christoph Thies, Juru kampanye  Greenpeace yang berasal dari Jerman, menjelaskan inti dari proposal  yang sangat hebat di ikuti  slideshow dari  Arief Wicaksono, penasihat politik Greenpeace di Jakarta, yang meliputi beberapa yang bersifat teknis. Christoph adalah salah seorang otak di belakang terciptanya proposal tersebut , dan ia terus menekankan betapa pentingnya pendanaan perlindungan hutan. Negara-negara maju perlu mengurangi karbon emisi mereka sendiri serta mengalirkan uang untuk melindungi hutan, jika tidak ada tindakan nyata yang akan melindungi iklim seperti proposal lain yang banyak dikemukakan

Dampak dari deforestasi pada  perubahan iklim akan menjadi agenda penting pada pertemuan  PBB mengenai perubahan iklim di Kopenhagen Desember mendatang, ketika tahap kedua protokol kyoto  dan negara-negara  donor yang mungkin akan menyumbangkan dana untuk karbon akan di undang seperti Jerman, Belanda, Norwegia, Australia, Inggris dan Jepang. Mereka adalah para donor potensial perlu mengetahui beberapa syarat  yang harus dilakukan, sebelum di mulainya pengaliran dana untuk perlindungan hutan dan jika rencana ini akan berjalan secara efektif.

A lorry travels through a palm oil plantation in Sumatra &copy Beltra/Greenpeace

A lorry travels through a palm oil plantation in Sumatra © Beltra/Greenpeace

Salah satu syaratnya adalah moratorium deforestasi di Indonesia ( Tuliskan surat dukunganmu pada presiden Indonesia), apa yang kami meminta Presiden untuk melaksankanannya –  ini akan memberikan sedikit waktu untuk melakukan suatu perbaikan tata kelola  mencari cara untuk perlindungan hutan selamanya. Persyaratan lainnya adalah  adanya pembangunan perekonomian yang berkelanjutan untuk masyarakat lokal adalah sesuatu yang terpenting, sehingga uang yang masuk tepat dimana dana itu di butuhkan bukan menjadi rekening seseorang di bank swiss.

Persyaratan lainnya dan memastikan dana tidak masuk ke rekening bank

Pra-syarat lainnya adalah memastikan dana yang di aliran benar-benar kedalam hutan yang ada, bukan pada hutan reboisasi atau hutan yang telah dihancurkan pada musim semi akan menangkap karbon seperti suatu jebakan, sebisa mungkin kita hindari. Kami juga menginginkan bahwa perusahaan yang melakukan penimbunan lahan tidak membuat suatu keuntungan dengan menjual ijin mereka untuk pembalakan dan pembukaan perkebunan kelapa sawit kepada pemerintah, yang akan membuat dana tersebut tidak mengalir kepada masyarakat dan akan masuk kedalam kantong mereka sendiri.

Tapi ini tidak semua dari pembicara dari Greenpeace ada beberapa perwakilan dari Propinsi Riau, Banda Aceh dan Kalimantan Tengah juga hadir pada acara tersebut. Perwakilan dari dari pemerintah Riau Susanto Kurniawan yang memberikan sedikit presentasi dengan data mencengangkan : sejak tahun 1982, Riau kehilangan 61.5% hutan dan lahan gambutnya, penurunan luasan hutan dari 6.5 juta hektar menjadi 2.5 juta hektar. Dipresentasi lain dari perwakilan Proponsi Nangro Aceh Darussalam mereka menjelaskan bagaimana gubernur mereka mendukung penghijauan dengan menjaga hutan alam mereka dan memelihara lingkungan secara keseluruhan dan bisa mendapatkan bantuan pendanaan dari penyelamatan tersebut.

Kita tidak memiliki waktu yang panjang untuk dapat menjalankan proposal ini. Dan seperti yang di tekankan Christoph, ini hanya bisa di lakukan untuk negara-negara yang telah maju untuk menyumbangkan dana dan memelihara hutan di Indonesia dan dimanapun.  Dahulu, mereka bertanggung jawab akan tingginya emisi gas rumah kaca dan tingginya deforestasi yang terjadi saat ini. Jadi para perusaklah yang harus membayarnya.

Jangan lupa, kamu bisa membantu menuliskan surat kepada presiden Indonesia untuk memintanya melaksanakan Moratorium  jika proposal Forest for climate ini mau berjalan. Dan besok kami akan meningglkan jakarta menuju sumtra untuk melihat kehancuran hutan yang di sebabkan perkebunan kelapa sawit yang telah merusak lingkungan di sana.

Leave a comment »