Archive for Riau

bye bye tweety

All packed up and ready to go © Greenpeace/Woolley

Semua sudah di bungkus dan siap berangkat © Greenpeace/Woolley

Beberapa hari mendatang, seiring berakhirnya pelayaran ini, orang-orang secara bertahap akan meninggalkan Esperanza dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun anggota pertama yang meninggalkan kapal bukanlah awak kapal, tapi Tweety, helikopter yang selama tiga bulan terakhir telah menerbangkan banyak orang di atas hutan dan perkebunan di Indonesia dan Papua New Guinea.

Untuk tweety, ini bukan saja menandai akhir dari pelayaran di seluruh Asia Tenggara, tapi juga akhir karirnya di Greenpeace. Setelah 25 tahun mengabdi bersama Greenpeace, dia akan dibungkus dan akan dikirim untuk diperbaruhi, tapi dia tidak akan kembali bekerja untuk Greenpeace.

Tweety telah menjadi bagian penting berbagai ekspedisi di laut selatan yang pada saat itu melacak kapal penangkap paus milik Jepang. Melihatnya diangkut keluar dari Esperanza dan bagian-bagian darinya naik ke atas kapal barang yang menunggu adalah akhir dari sekelumit sejarah Greenpeace bersamanya.

Comments (4) »

Selamat tinggal kota kelapa sawit

Setelah memberi Isola Corallo salam perpisahan, kami akhirnya meninggalkan Dumai. Kami melakukan semuanya sesuai rencana (bisajadi malah lebih dari yang direncanakan), dan kami berhasil mendapatkan sorotan nasional dan internasional tentang permasalahan yang terkait dengan cara produksi kelapa sawit di Indonesia. Seperti yang saya tulis di posting sebelumnya, perusahaan kelapa sawit raksasa, Sinar Mas, berhasil kami buat tercenang dengan seluruh aksi yang kami lakukan, meskipun juru kampanye kami sepakat bertemu mereka minggu depan di Bali, kami tidak akan berhenti membeberkan kehancuran yang telah mereka lakukan (juga oleh perusahaan lain) di hutan dan lahan gambut.

Sore ini kami sampai di Singapura, yang merupakan persinggahan terakhir kami. Pelayaran ini tengah mendekati puncaknya, tetapi  belum mencapai titik akhir – kami masih punya satu tugas lagi, tetapi Anda harus bersabar menunggu hingga hari Senin untuk mengetahuinya.

Sementara itu, sekedar mengingatkan jajak-pendapat oleh harian the Jakarta Post tentang apakah aksi kami dapat dibenarkan? Sebagian dari pendapat yang masuk telah dimuat di situs internet mereka, sebagian besar pendapat menyatakan dukungan dan membenarkan tindakan kami. Saya ucapkan terimakasih jika Anda telah berpartisipasi melalui email atau SMS – tetapi Anda dapat melakukan hal yang lebih baik lagi dengan menyurat kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, agar segera menghentikan penghancuran hutan di negerinya.

Leave a comment »

Perang lawan kapal tunda

The Esperanza attempts to slip past a tug as the Isola Corallo comes in to dock © Greenpeace/Rante

Esperanza mencoba untuk menyelip saat kapal Isola Coralla datang untuk merapat © Greenpeace/Rante

Aku telah memperkirakannya, setelah pagi ini Esperanza menyerobot lokasi sandar yang telah disiapkan untuk Isola, kami punya waktu untuk beristirahat (khusus aku, aku butuh mandi yang lama) dan bersiap menghadapi pihak berwenang yang pasti akan datang. Harapan tinggal harapan, rangkaian kegiatan malah terus berlangsung dengan cepat.

Kapal lain yang berada disebelah tempat berlabuh kami telah pergi dan digantikan oleh kapal barang besar  yang berhenti tepat di buritan kapal Esperanza untuk mengurung kami. Dengan Corallo bersiap untuk masuk (permintaan tuntunan berlabuh kami tangkap melalui radio), menjadi jelas bahwa pihak Administrasi Pelabuhan tengah mencegah kami merapat.

Standing on the mooring line © Greenpeace/Novis

Berdiri di atas tali penambat © Greenpeace/Novis

Tidak banyak pilihan yang kami punya, kecuali menarik kembali tali tambatan dan mengusahakan Esperanza bergeser di sekitar kapal barang. Kerumunan orang terus bertambah di dermaga, dan seorang laki-laki yang marah melakukan aksi langsung dengan caranya sendiri yaitu berdiri di atas tali tambat terakhir. Beberapa awak kapal berusaha membujuknya tetapi dia bergeming. Satu-satunya jalan keluar adalah memotong tali agar kapal dapat terbebas.

Namun dua kapal tunda menunggu kami dan ketiga kapal tersebut mulai melakukan gerak lambat berirama yang ganjil-Esperanza mencoba bergerak kembali ke dalam dan kapal tunda mendorong kami ke arah berlawanan. Sementara itu, Corolla melaju cepat menuju dermaga, membuat kapten kami berpacu melawan waktu guna menghidari kapal tunda dan saat yang sama menempatkan Esperanza di jalan masuk kapal tanker. Perasaan kami saat itu tak cukup digambarkan hanya dengan menggigit kuku.

Tetapi karena kami kalah banyak, dan meskipun Esperanza dan Corallo saat itu hanya berjarak beberapa meter saja, kapal tunda tidak akan membiarkan kapal kami pergi begitu saja dan memaksa kami kembali ke pelabuhan. Meski kecewak karena gagal melanjutkan penghadangan lebih lama, setidaknya kami berhasil menimbulkan gangguan serius dalam waktu terbatas.

Hasil yang lumayan, selain luasnya liputan media nasional dan internasional terhadap kegiatan kami sepanjang minggu, tiba-tiba pihak Sinar Mas, perusahaan agrobisnis di balik minyak kelapa sawit yang dikapalkan yang baru saja kami blokade, untuk berbicara dengan juru kampanye kami. Tadi malam Bustar berbicara dengan Daud Darsono, Wakil Presiden SMART Group, salah satu anak perusahaan Sinar Mas khusus bidang minyak kelapa sawit. Ketika dipaparkan  tentang penggundulan hutan yang dilakukan oleh perusahaannya, ia menjawab, “Itu hanya wilayah yang kecil.”

Namun demikian Darshono sepakat untuk bertemu pada pertemuan RSPO minggu depan, tapi kami tetap menegaskan bahwa kami tidak akan menghentikan pembeberan dan aksi langsung kami hingga pihak Sinar Mas mendukung secara terbuka  moratorium atas penggundulan hutan di Indonesia . (jangan lupa Anda pun dapat menulis kepada SUsilo Bambang Yudhoyono untuk menuntut moratorium)

Cutting the mooring lines © Greenpeace/Novis

Memotong tali penambat © Greenpeace/Novis

Pada waktu itu, dua perahu karet kami meninggalkan Esperanza, menuju Corallo. Aku baru saja mengeceknya melalui teropong  dari anjungan kapal dan air mengucur dari selang di atas geladak kapal Corolla, tapi lambung kapal telah tertulisi ‘Forest Crime’ dan ‘Climate Crime’

Leave a comment »

Esperanza bergerak menghadang kapal tanker minyak kelapa sawit

Hauling on the mooring lines © Greenpeace/Novis

Menarik tali tambat kapal © Greenpeace/Novis

Maaf karena kemarin tidak memuat berita terbaru. Rantai jangkar kapal tanker Isola Corallo telah diduduki sejak Rabu malam, dan masih berlanjut, tetapi kami tetap menunggu kesempatan lain untuk datang. Akhirnya, setelah cukup lama mengamati lalu lintas Pelabuhan Dumai dan beberapa harapan kosong, sekitar satu jam sebelum fajar yang lama kami nanti-nantikan pun muncul, dan sekarang Esperanza masuk ke wilayah dermaga untuk telah menghalangi kapal tanker Isola Corallo untuk memuat minyak kelapa sawit.

Crude palm oil seeping from a loading pipe © Greenpeace/Woolley

Minyak kelapa sawit mentah dari pipa bongkar muat © Greenpeace/Woolley

Ada bagian dari dermaga yang diperuntukan untuk mengalirkan minyak kelapa sawit melalui pipa ke lambung tanker. Beberapa jam yang lalu, bagian itu ditempati oleh dua kapal lain; ketika salah satu dari kapal itu bergerak keluar dan Esperanza berhasil menempatinya mengambil alih tempat yang seharusnya digunakan Isola Corallo.

Saat ini kami mencegah Corallo datang mendekat-Corallo adalah kapal tanker yang besar, hanya sedikit lebih besar dari Gran Couva yang kami temui awal minggu ini, sehingga baik kami maupun kapal yang satu lagi harus pindah sebelum Corallo datang.

Meskipun pagi masih gelap, semua kru bekerja. Tugasku adalah membantu mengatur tali tambat kapal begitu Esperanza telah mencapai dermaga, yang berarti terjun dari geladak belakang. Pipa dan lumpur tebal tepat berada di bawah, tapi aku berhasil melompat tanpa mengalami patah pergelangan kaki. Karena menarik tali yang berat di tempat yang sama, tak lama kemudian aku sudah bermandikan lumpur yang bau. Pipa yang berada di sekitar kami adalah yang mengalirkan CPO, warnanya jingga terang seperti jeruk Sunkist. Bahkan ketika tidak digunakan,  minyak kelapa sawit masih keluar dari pipa dan menimbulkan lumpur yang kental dan berbau tengik yang sekarang menempel di tubuhku.

Aku berharap setidaknya penjaga keamanan atau sekelompok polisi menunggu untuk menyambut kami, tetapi saat itu tak tampak orang-orang di sekitar tempat itu kecuali dua orang pria yang tengah bertugas. Saat ini, kami tengah mencegah 29.000 ton minyak kelapa sawit milik Sinar Mas diekspor ke Rotterdam, tujuan kapal Corallo.

Watching the dock as the Esperanza moves in for the blockade © Greenpeace/Novis

Memantau dari lambung saat esperanza menghadang © Greenpeace/Novis

ditulis Jamie dari atas Kapal Esperanza

Comments (6) »

Aksi rantai berlanjut dengan penghadangan kapal kedua

Anchored to the Isola Corallo © Greenpeace/Novis

Seorang pemanjat dari kapal Esperanza mulai menempati posisinya di rantai jangkat kapal tanker kedua di pelabuhan Dumai untuk mencegahnya dari memuat minyak kelapa sawit.

Kami sudah menunggu selama beberapa hari sebelum kapal Isola Corallo akhirnya muncul. Nama kapal yang unik membuat para penyelidik Greenpeace bingung dan bertanya-tanya apa kapal ini benar-benar ada. Waktu kedatanganya mundur terus dari perkiraan semula dan akhirnya sekitar jam 7.30 malam kapal itu akhirnya lego jangkar. Kami keluar dalam kegelapan dan akhirnya sampai di dekat rantai jangkar. Saat kawan pemanjat mulai menaiki rantai jangkar, para kru kapal tidak menampakkan keingintahuan mereka, tidak seperti di Gran Couva.

Mengapa kapal ini yang kami tuju? Kapal Isola Corallo adalah sebuah tanker besar yang rencananya akan memuat minyak kelapa sawit. Sama seperti Gran Couva, kapal ini juga bertujuan ke Rotterdam. Kami telah menanti kapal ini muncul karena minyak kelapa sawit yang akan diangkutnya adalah milik Sinar Mas, yang bukan hanya perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, tetapi juga perusahaan bubur kertas dan kertas terbesar juga. Sinar Mas adalah perusahaan yang bertanggung jawab atas pembukaan hutan besar-besaran yang dilihat oleh tim helikopter di dekat Jayapura, Papua, beberapa minggu lalu. Serta juga di Semenanjung Kampar baru-baru ini.

Malam tadi terasa panjang bagi para pemanjat dan walaupun disertai hujan, suasana sejauh ini masih cukup tenang. Tapi kapal ini akan memulai mencoba memuat minyak kelapa sawit sebentar lagi. Nah, setelah itu keadaan akan lebih seru.

Comments (8) »

Pendapat anda tentang pemblokiran kapal pengangkut minyak kelapa sawit?

The Jakarta Post surat kabar berbahasa Inggris utama di Indonesia, meminta pembacanya memberikan pendapat tentang aksi kami baru-baru ini di Dumai:

Greenpeace melakukan memblokir beberapa kapal pengangkut minyak kelapa sawit, mencegah mereka sebelum meninggalkan Indonesia dan mendesak berhentinya pengrusakan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Apa pendapat Anda? Kirim pendapat anda melalui SMS ke +62 81118 72772 atau melalui email. readersforum@thejakartapost.com, Tolong cantumkan nama dan kota anda.

kami berharap anda bisa ikut dalam jajak pendapat itu.

Sementara itu, nikmati video pendek dari kegiatan beberapa hari belakangan. Video ini dibuat untuk dikirim ke jaringan televisi dan media, tapi andapun bisa ikut merasakan bagaimana rasanya berada disana saat itu.

Comments (6) »

Berita terbaru: Pemanjat rantai jangkar kapal dibebaskan

Berita terbaru kami yang cukup menyenangkan: pemanjat kami telah dibebaskan tanpa tuntutan, tidak dari polisi, dari Wilmar ataupun dari Gran Couva

Kami juga diminta untuk segera meninggalkan Dumai, tapi kami masih tetap di sini.

Leave a comment »