Menelusuri Hutan Hingga Perbatasan

holding out the banner in the Kampar peninsula © Greenpeace/Novis

dengan latar belakang perbatasaan hutan : membentangkan spanduk di semenanjung kampar© Greenpeace/Novis

Saya sudah mengosok dan membersihkan tapi tetap saja masih ada sisa lumpur yang melekat di badan. Ini memang kesalahan saya – seharusnya saya tidak berada di lahan gambut Riau. Tetapi Gambar di atas – Itu Kami : beberapa dari awak Esperanza dan sukarelawan dari Indonesia membentangkan spanduk besar tepat di perbatasan hutan (forest wall), suatu garis lurus yang memisahkan ekosistem dan pohon-pohon yang telah habis di babat. Dalam kegiatan itu saya tepat berada di atas huruf P pada tulisan STOP.

Kami memulai kegiatan ini pada pagi hari dan menempung perjalanan panjang untuk menyusuri semenanjung Kampar, Kami menunjuk PT. arara Abadi-Siak karena perizinan dari perkebunan pohon akasia yang digunakan untuk membuat pulp and paper. Perusahaan ini adalah salah satu anak perusahaan dari Asia Pulp and Paper (APP) yang juga merupakan teman-teman dari Sinar Mas – yang juga mempunyai kekuasaan pada pulp and paper, Sinar Mas merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, dan (mereka adalah anggota RSPO) mereka banyak memiliki perkebunan di dekat sini.

Holding on to the banner

Memegang Spanduk© Greenpeace/Sharomov

Menyusuri jalan sungai pakning sangat menyenangkan – rumah-rumah kayu yang elegant di antara rimbunan hijau dan anak-anak yang bersepeda ke sekolah. Tetapi setelah melewati sungai siak dengan kapal fery, kami betul-betul berada di perkebunan. Barisan kelapa sawit berjajar di sepanjang jalan yang rusak dan buah kelapa sawit tergeletak di pinggir jalan. Berjalan sepanjang perbatasan, hutan alam asli berada di sebelah kanan sementara jajaran pohon kelapa sawit muda tepat di ujung mata sebelah kiri saya. Perbatasan dengan hutan yang tebal ini terlihat seperti garis biru di langit dan sepanjang jalan yang kami lewati.

Lokasi yang kami pilih dengan kotoran yang sangat tebal, jadi kami harus memanjat dengan susah payah kedaerah yang agak rusak di sana. Pohon-pohon yang mati dan tanah yang bejek adalah jalan yang kami tempuh, sudah tak terhitung berapa kali saya terjatuh di air gambut yang hitam. Saat kegiatan berakhir, sebagian besar dari kami penuh dengan lumpur hingga lutut kami. Kebanyakan tumbuh disini adalah phon akasia yang dulunya adalah hutan yang lebat.

Membentangkan spanduk dengan ukuran 40x 20 tidaklah mudah, diperlukan 20 orang untuk membukanya, menarik dan menguatkannya. Sementara kami menunggu juru kamera mengambil gambar, saya melihat sekeliling. perbatasan hutan hanya berjarak 20 meter di belakang saya, hutan yang lebat dan dedaunan.

Saya berharap mendapat kesempatan melihat kesana walaupun hanya beberapa menit saja, sedihnya itu tidak bisa terlaksana tapi kicauan burung dan serangga berterbangan di seluruh lahan yang kosong. Lahan gambut yang sangat memukau adalah tempat satwa liar dengan salah satu tingkat keanekaragaman tertinggi di Indonesia dan beberapa dari mereka menghampiri kami di atas spanduk. Capung dan kupu-kupu besar datang keatas spanduk kami dan berputar-putar kami tidak mengusirnya ini sangat menarik terutama untuk saya. Ini membuat keringat saya terus menetes (mereka tidak mungkin kan meminumnya )

A graveyard of roots

Akar pepohonan© Greenpeace/Sharomov

Di depan saya, ada suatu cerita yang berbeda. Dari sebuah lahan gambut yang berwarna abu-abu kecoklatan, dengan akar-akarnya yang menengadah dan terpapar ke udara, dan batang akar akar yang menguatkannya. Di tempat yang lain, forests wall terbentang suatu kumpulan kecil dengahn rimbunan hijau berada diantara jalan dan lahan gambut, tapi tidak ada yang tahu berapa lama ini akan bertahan. Terdapat dua perbedaan dan hutan yang anda lihat di foto itu juga di hancurkan PT. Arara Abadi-Siak. Mereka hanya belum menghancurkannya.

Sebuah nama Jikalahari yang tertulis di banner bersama dengan Greenpeace adalah sebuah jaringan kerja sama untuk penyelamatan hutan yang berkelanjutan dan hak-hak masyarakat adat di Riau. Greenpeace telah bekerja sama dengan Jikalahari sangat erat. Kemarin kami mengelar jumpa press bersama di atas kapal. Dengan tujuan untuk mendorong terjadinya moratorium di Indonesia dan mendukung yang telah menyatakan untuk memberlakukannya

Wan Abubakar, Gubernur Riau, telah membuat keputusan untuk moratorium di Riau. Perlu adanya tindakan dari pemerintah nasional untuk mensyahkan keputusan tersebut dan kami (Greenpeace dan Jikalahari) mencoba untuk mewujudkannya dengan pemetaan hutan dan perkebunan di semenanjung Kampar, dengan banyaknya penerbangan yang kami lakukan helicopter kami sangat membantu. Dengan peta ini, kita dapat membuat daerah yang harus melindungi dan yang berpotensi untuk dikembalikan, dan tentu saja moratorium di Riau akan memberi tekanan tambahan untuk diberlakukan di seluruh Indonesia.

Carrying the banner alongside a canal draining water from the peatlands

Membawa Banner sepanjang kanal yang airnya berasal dari pengeringan lahan gambut© Greenpeace/Sharomov

Tetapi kembali di lapangan, kami membentangkan dan mengulungnya kembali sebelum tertangkap petugas keamanan perusahaan. Mereka tidak tertarik untuk mengambil foto, tetapi tentu saja mereka telah dilatih dengan ponsel kameranya. Setelah beberapa negosiasi oleh juru kampanye kami, kami kempali ke perkebunan lalu berjalan menuju kapal dengan jorok, lelah dan senang.

Namun, saya masih tidak habis berfikir tentang perbatasan hutan yang tadi ada di sebelah saya akan berapa lama mereka bisa bertahan

Ditulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: