Pembabatan dan Pembakaran Hutan di Riau

Now you see it...

Sekarang, Lihatlah ini....

Kami tiba di Sungai Pakning, dermaga kecil di daerah pesisir Riau, Sumatra dan Esperanza berlabuh di sebuah terusan berlumpur  yang mengalir diantara daratan utama dan dua pulau, Pulau Bengkalis dan Pulau Padang. Air kental yang mengalir pelan melewati kapal akan bermuara di Sungai Siak, yang tepi pantainya hanya beberapa mil kearah selatan.

Sungai Pakning mungkin merupakan dermaga kecil, tapi dimana-mana terlihat banyak tanda atas apa yang terjadi di pedalaman pulau tersebut. Kapal kontainer besar berlabuh dengan tenang menunggu muatan mereka dan api diatas kilang minyak menyinari langit malam hari. Kami berada di ujung wilayah perkebunan-perkebunan besar yang  mendominasi daerah ini, keduanya adalah perkebunan kelapa sawit yang telah banyak kita lihat dan pepohonan Akasia yang telah dipanen untuk dijadikan Pulp and Paper (bubur kertas)

Semua perkebunan ini berada di wilayah yang dulunya hutan dataran rendah yang lebat,dengan aliran air yang berasal dari lahan gambut. Tentu saja saat ini hutannya sudah hilang, gambut sudah dikeringkan dan dibakar, menyebabkan kabut asap tahunan menyelubungi Asia Tenggara selama masa pembakaran. Pembabatan, pengeringan dan pembakaran telah melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang besar dan berkontribusi menempatkan Indonesia diposisi tiga dalam table emisi global

Tweety telah melaju dalam misi pemantauan yang lebih dalam. Cuaca Hujan telah membuat kami frustasi tapi John dan Kasan — juru foto dan juru kamera yang kami dihormati-telah membuat beberapa gambar diatas semenanjung Kampar. Kami secara khusus tertarik pada wilayah ini karena mempunyai hutan rawa terakhir yang luas dan disinilah pada tahun lalu Kamp Pembela Hutan membangun bendungan dan memasang banner.

….Sekarang tidak lagi.  Tidak terlalu lama sebelum gambar ini diambil, hutan alami berdiri di wilayah itu.

...now you don't. Until shortly before this picture was taken, pristine forest stood in that spot

...sekarang kamu tidak bisa lagi melihatnya. sebelum foto ini di ambil, hutan itu masih ada di sana.

Menyedihkan, ini bukan berita baik. Seperti yang dapat kau lihat pada gambar diatas, buldoser membersihkan wilayah hutan yang masih tersisa, pikirkan ini: beberapa hari (bahkan jam) sebelum kamera kami berada disana, sebagian lahan masih ditutupi hutan yang mungkin telah ada disana selama ribuan tahun. Sekarang semuanya hilang, membawa serta kehidupan alam liar, tumbuh-tumbuhan dan memindahkan semua hal yang memungkinkan komunitas lokal dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Itu terjadi ketika helikopter terbang sesaat lalu dan masih terjadi ketika anda membaca ini.

Di dalam semanjung terdapat secuil hutan gambut yang dilindungi, tapi ketika detail peta wilayah dilihat dengan cepat, terungkaplah bahwa wilayah tersebut dikepung oleh perkebunan dan penebangan kayu glondongan yang konsensinya dimiliki oleh perusahaan seperti Duta Palma, Asian Agri dan Asia Pulp and Paper (APP anak perusahaan raksasa kelapa sawit Sinar Mas), dan dengan maraknya pembalakan liar tidak ada jaminan wilayah ini akan tetap tidak tersentuh. Mereka adalah perusahaan yang juga merupakan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil yang secara teori tidak seharusnya merusak lingkungan seperti itu.

Banyak hutan Sumatra dimusnahkan. Seperti yang aku ketahui dalam seminar yang kami selenggarakan di Jakarta minggu lalu, Riau dulunya dipenuhi oleh pepohonan, tapi itu sudah dimusnahkan dan digantikan oleh perkebunan kelapa sawit dan pohon akasia untuk bubur kertas (pulpwood and Paper). Jadi jika itu bukan masalah? Kenapa menyusahkan diri berusaha menyelamtkan beberapa wilayah kecil? Karena taruhannya besar. Kedalaman gambut yang tersisa di semenanjung Kampar mencapai 15 meter, jadi banyak karbon yang tersimpan disana. Jika semuanya akan dikonversikan menjadi tanaman sejenis yang tiada habisnya, maka kita akan melepaskan gas rumah kaca yang nilainya setara dengan emisi global selama setahun

Beberapa minggu lalu, aku melihat hutan Papua dan Papua Barat dirusak oleh penebangan untuk pembuatan jalan dan beberapa perkebunan, tapi secara keseluruhan mereka tidak terganggu. Di Sumatera sini, kebalikannya yang terjadi, dan takdir hutan disini dapat terjadi di Papua

Kami akan berada disekitar sini selama beberapa hari untuk melakukan beberapa penelitian. Aku akan beritahu apa yang kami temukan. Sementara itu, ini adalah beberapa foto selama dua hari ini.

A bulldozer moves alongside canals used to drain peatland by palm oil company Duta Palma

Buldozer perusahaan kelapa sawit duta palma berada di sepanjang kanal untuk mengeringkan lahan gambut

more devastation on Duta Palma land

mengambil yang tersisa : kehancuran yang telah dilakukan Duta Palma

Oil palms stretching as far as the eye can see - another Duta Palma creation All images © Greenpeace/Novis

kelapa sawit terlihat sejauh mata memandang - Duta palma melakukan semua ini © Greenpeace/Novis

di tuliskan Jamie dari Esperanza

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    […] melihat bentangan lahan yang rusak melalui lensa fotografer kami, John, dan dari gambar-gambar yang telah diabadikannya. Aku bisa merasakan penderitaan bumi kita dan hatiku merasa sakit ketika […]

  2. 2

    ob3t said,

    they do like a god..
    take evrythink from us to make they self more rich..
    but don’t be affraid.., let make they pay for this…
    go green peace go…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: