Anak-anak korban tsunami diterima di Esperanza seperti tamu VIP

Dmitri © Greenpeace/Novis

Dmitri di anjungan Esperanza© Greenpeace/Novis

Ketika kami bersandar di Jakarta minggu lalu, ratusan orang datang mengunjungi Esperanza, berkeliling kapal sampai ke anjungan. Yang datang pada hari itu  termasuk para Greenpeace Supporter , wartawan dan pengunjung umum lainnya, tapi ada satu kelompok yang agak khusus hari itu.

Saat Dmitri tidak bekerja sebagai mualim di kapal-kapal Greenpeace, dia mengelola sebuah lembaga hibah yang bernama Orphans Trust Fund atau Dana Anak Yatim di kampung halaman barunya di Selandia Baru untuk membantu anak-anak yang kehilangan orang tuanya saat terjadi bencana tsunami di Aceh tahun 2004. Saat itu  Dmitiri berada di atas kapal Rainbow Warrior ketika kapal itu mengantarkan bantuan ke Aceh setelah terjadinya bencana. Dmitri tetap tinggal di Aceh setelah kapal berangkat.

Dana yang dikumpulkan Dmitri membantu untuk membayar pendidikan anak-anak ini disebuah sekolah yang bernama Fajar Hidayah yang ada di Aceh dan Jakarta. Karena kami berada di Jakarta, kami tidak bisa melewatkan kesempatan untuk memberi mereka tur khusus keliling kapal.

Berikut ini Dmitri menerangkan bagaimana awal ceritanya sampai dia memulai dana ini dan mengapa dia percaya bahwa menolong sekelompok kecil anak-anak ini sangat penting. Dengarkan wawancaranya, dan berikut adalah salinannya:

Pertama kali aku ke Aceh adalah pada tahun 2004 ketika terjadinya tsunami. Kapal Rainbow Warrior berada di Singapura waktu itu, dan pada hari ke tujuh kami sudah berada di Aceh untuk membantu. Kami mengantarkan bantuan kemuanusiaan di sepanjang pantai barat Sumatra, dan setelah satu bulan keadaannya sudah lebih baik. Rainbow Warrior meninggalkan Aceh untuk melanjutkan kampanye lain dan aku tinggal di Aceh dua bulan lagi untuk bekerja di beberapa organisasi bantuan lain.

Kemudian suatu hari aku mendengar tentang rumah yatim ini dan saya sangat tertarik karena ada sekitar 50,000 anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Saya mengunjungi tempat itu dan di situlah aku bertemu mereka pertama kalinya.

Dmitri with some of the children he met in Aceh in 2005 © Shamarov

Dmitri dengan beberapa anak yang ia temui di Aceh pada 2005 © Shamarov

Sebelum aku meninggalkan Aceh, aku punya kawan-kawan nelayan di Alaska dan ide awalnya adalah membuka rekening bank untuk tiap anak dari sekitar 90 anak yatim di sekolah itu. Saya minta kepada kawan-kawanku di Alaska dan mereka mengirim sekitar US$800 langsung tanpa banyak pertanyaan, perlu waktu tiga hari untuk membawa semua anak itu ke bank dan kami membuka 90 rekening bank untuk mereka.

Setelah itu aku kembali ke Selandia Baru dan mencoba mencari bantuan dari organisasi-organisasi bantuan besar, tetapi mereka terlalu sibuk dengan proyek-proyek bantuan lain dan bahkan sebagian diantara mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan member uang sepeserpun, tidak bahkan $1. Dan akhirnya satu organisasi, Tearfund, mulai membantuku dengan memberi arahan

Aku masih harus mencari sponsor atau penanggung untuk anak-anak ini jadi aku bicara dengan kawan-kawanku dan kami menggelar pameran foto tentang tsunami dan anak-anak. Kami menggelar empat atau lima pameran foto di Auckland, dan pada pameran itu aku berbicara dengan para pengunjung, kutunjukkan video dan foto, dan sebagian di antara mereka tertarik untuk membantu anak-anak ini. Beginilah awalnya kami membentuk Orphans Trust Fund.

Rombongan kunjungan dari SDN 12 Benhil Jakarta

Rombongan kunjungan dari SDN 12 Benhil Jakarta

Dalam dua hari sewaktu kami di Jakarta, sekitar 80 atau 90 anak-anak mengunjungi Esperanza. Karena aku selalu berusaha tetap memberi kabar pada anak-anak ini, mereka tahu bahwa Esperanza akan singgah ke Jakarta jadi mereka menungguku dan kapal ini, dan bertemu lagi. Aku juga tidak sabar bertemu mereka. Jadi tur ini memang special, ini seperti memberikan perlakuan khusus untuk mereka.

Kami mencoba mengajak mereka untuk melihat sebanyak mungkin, bahkan kami membawa mereka ke ruang mesin. Para juru mesin, Mannes dan Sabine, mengajak mereka keliling dan anak-anak ini mengajukan banyak pertanyaan dan mereka sangat tertarik. Mereka bertanya tentang Greenpeace. Dan ini bagus, sebagian diantara mereka sudah berusia 18 tahun dan dalam waktu lima tahun akan mencari pekerjaan dan mudah-mudahan akan melakukan hal yang baik. Untuk tetap berhubungan dengan Greenpeace aku pikir ini penting, juga untuk masa depan mereka.

Saat ini, masih ada 13 anak yang didanai dari Selandia Baru. Ini tidak banyak tapi sebuah sumbangan dan aku pikir tiap anak itu penting. Bahkan bila aku mendukung satu anak saja, itu sudah cukup banyak.

ditulis oleh Jamie di atas kapal Esperanza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: