Berada di Dua Perbatasan

Dorothy on the deck of the Esperanza © Greenpeace/Rante

Dorothy di geladak Kapal Esperanza© Greenpeace/Rante

Kami sudah berlayar melewati serta menemukan beberapa nama-nama yang indah yang berasal dari berbagai belahan dunia seperti Flores, Butu, Ceram, Halmahera and beberapa kepulauan kecil. Untuk saya membayangkan kapal-kapal yang berlayar dengan penuh bahan muatan dengan pala, Merica dan Cengkeh.

Memang pandangan yang sangat Eurocentris, tentu dengan perdagangan rempah-rempah ini adalah penghasilan untuk para penduduk lokal, tetapi saya tidak dapat menemukan jalur asosiasi eksplorasi perdagangan yang mempesona dan juga pelayaran yang belum di petakan. (yang sangat perlu dibaca adalah sejarah masa lalu, Anda bisa mencarinya dari tulisan Nathaniel’s Nutmeg oleh Giles Milton.)

Tetapi saat ini kami sedang melintasi daerah yang sangat eksotik, kami sedang mempersiapkan pemberhentian kami selanjutnya di Jakarta dan perjalanan panjang juga memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan beberapa wawancara yang saya lakukan antara Jayapura dan Manokwari.

Salah satu wawancara yang paling menarik dengan beragam orang dan bekerja sama dengan saya pada pelayaran ini adalah Doroty . Beliau adalah Juru kampanye hutan yang berasal dari Papua Nugini dan telah bersama Esperanza dari Port Moresby pada bulan Agustus. Dorothy telah meninggalkan kapal akhir pekan lalu di Manokwari tapi sebelum ia turun, saya ingin mengetahui mengapa sangat penting baginya tetap di atas kapal saat menuju  ke Indonesia yang berbatasan dengan Papua Nugini.

Anda telah berada di Esperanza untuk di dua negara di Papua Nugini dan Indonesia. Mengapa berada diperbatasan menjadi sangat penting untuk anda?

Ini sangat penting untuk berbagai alasan. Pertama, sebagai Juru Kampanye,sangat baiknya untuk memahami bahwa pulau ini kaya keanekaragaman hayati dan merupakan kesatuan ekologi. Pulau ini memiliki masalah yang sama di kedua sisi perbatasan dan sebagai seorang juru kampanye itu sangat penting bagi saya untuk memahami apa yang sedang terjadi di sini, serta di Papua Nugini.
Selain itu, Jika kita pergi kesuatu konferensi internasional, kita cenderung untuk berbicara sebagai satu pulau yaitu pulau nugini. Yang merupakan hutan hujan terbesar ketiga dan menjadi sangat Ini adalah dunia ketiga terbesar hutan hujan dan sangat penting berpikir secara keseluruhan daripada terbagi-bagi. Ini juga telah memperkaya pengetahuan saya untuk melihat perjuangan rekan-rekan saya ini di sisi perbatasan, dan masalah-masalah yang mereka hadapi di sini.

Dan anda mempunyai kedekataan cukup kuat dengan Papua, juga?
Secara pribadi, kunjungan ini sangat menjadi sedikit emosional untuk saya. Karena saya melihat keindahan pulau saya, menjadi keturunan orang Papua dari sisi lain. Saya berasal dari Papua New Guinea tetapi  nenek saya berasal dari sisi perbatasan, dan ini menjadi sesuatu yang emosional bagi saya bertemu saudara di Papua melalui lingkungan dan yang terutama karena sebagian besar dari mereka masih menggantungkan mata pencahariannya pada hutan.

Saya memiliki keluarga di sana yang hidup di bawah sistem politik yang berbeda, tanah yang berbeda dan undang-undang tentang hutan yang berbeda. Ini menjadi sangat sensitif, tetapi juga menarik untuk mempelajari tentang hak-hak mereka dan juga membuat saya lebih tahu bagaimana cara kita bersatu sebagai masyarakat adat di pulau ini bukan sebagai dua orang yang berbeda negara, hukum atau politik.

Dengarkan wawancara dengan Doroty berikut ini tentang hubungan antara Papua da Papua Nugini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: