Bagian 2 – Siapa Saja yang Terlibat di Bisnis Kelapa Sawit: Kepentingan komersial

Lihat peta dengan warna kuning dan hitam. Itu dalah peta negara swiss, dan seluas itupulah hutan di papua akan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di beberapa tahun mendatang.

Lihat peta dengan warna kuning dan hitam. Itu dalah peta negara swiss, dan seluas itupulah hutan di papua akan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit di beberapa tahun mendatang.

Seperti yang kami temukan di beberapa penerbangan kemarin, perkebunan kelapa sawit menjadi awal dari dari kehancuran di papua dan papua barat. Sejauh ini, Kami menemukan dua wilayah perkebunan kelapa sawit – di lereh dekat Jayapura, Papua minggu lalu dan di sekitar teluk bintuni kemarin – di bandingkan dengan perkebunan tumbuhan sejenis di sumatera dan Kalimantan, ini masih terhitung sangat kecil. Tetapi keberadaan mereka di sini memberikan suatu peringatan besar  bahwa suatu wilayah besar hutan telah tergambar di atas kertas antara pemerintah Indonesia dan perusahaan kelapa sawit, dan secara nyata akan hilang jika kita tidak mengambil tindakan.

Seperti yang kita lihat dari helikopter penerbangan kemarin, minyak kelapa sawit adalah awal agar keberadaan dirasakan di Papua dan Papua Barat. Sejauh ini, kami telah disurvei perkebunan di dua daerah – Lereh minggu terakhir di dekat Jayapura dan tentu saja satu di dekat Teluk Bituni dari kemarin – dan dibandingkan dengan luas monocultures di Sumatera dan Kalimantan, ini adalah urusan kecil cantik. Tetapi keberadaan mereka di sini adalah peringatan yang besar wilayah hutan telah diukir di atas kertas antara pemerintah Indonesia dan perusahaan minyak kelapa sawit, dan akan diukir untuk nyata jika kita tidak mengambil tindakan.

Di wilayah ini telah tertanam 60,000 hektar kelapa sawit, pemerintah telah mengeluarkan izin meliputi 4 juta hektar wilayah untuk perkebunan (sedikit lebih kecil jika di bandingkan dengan Swiss) dan sebagian besar wilayah tersebut masih hutan alam. Produsen minyak kelapa sawit seperti sinar mas, Medco, Korindo dan Asian Agri telah diberikan hak  untuk alih fungsi dan memperluas perkebunan besar, mereka tidak melakukannya sekaligus, saat ini mereka belum memulainya.

Sebagian dari alasan keragu-raguan mereka adalah kurangnya infrastruktur di daerah kecil dan ataupun perkotaaan  di tanah wilayah mereka berada, pada saat ini, wilayah mereka sangat  jauh dan tidak memiliki akses yang baik. Jadi, banyak perusahaan yang menimbun banyak lahan pada saat harga tanah tersebut masih rendah dan menunggu seperti adaya transportasi sumber daya manusia sebeluh tanah terebut di alih fungsikan menjadi perkebunan.

Alasannya lainnya adalah adanya pelarangan pengiriman kayu bulat di Papua yang di terapkan Gubernur Papua Barnabas Suebu – bahwa tidak memperbolehkan kayu bulat keluar dari wilayah hutan, peraturan ini mencegah masuknya perusahaan pembalak kayu untuk masuk. Tetapi kurangnya sumber daya seperti polisi untuk mengawasi jalannya peraturan tersebut, dan seperti yang kami temui minggu ini, Pembalakan masih terus berlangsung.

Tentu saja, para pembalak tidak akan memperluasan wilayah pembalakan jika tidak ada permintaan yang tinggi pada kelapa sawit dari pasar dunia. Tingginya permintaan ini untuk mencukupi kebutuhan produk-produk supermarket, tidak menyebutkan untuk kebutuhan minyak nabati. Kampanye yang saat ini kami lakukan di Asia tenggara, kami mendorong para konsumen yaitu perusahaan besar di Eropa dan Amerika serikat Seperti Unilever untuk ikut memberikan dorongan pada pemasok minyak kelapa sawit untuk menghentikan penghancuran hutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: