Apakah uang benar-benar bisa menjadi di pohon?

A palm oil plantation in West Papua, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

Jika tidak mendapatkan pendanaan dari indternasional, HUtan Indonesia mendapatkan ancaman dari perluasaan perkebunan kelapa sawit.© Greenpeace/Sharomov

Saat ini kami telah melewati batas administrasi antara Papua dan Papua Barat, dan selama beberapa hari, kami telah berlabuh di sebelah barat Teluk Cenderawasih, Sebuah teluk besar yang membelah pulau Papua di Indonesia menjadi Papua dan Papua Barat,  teluk ini membentuk suatu keindahaan yaitu  bentuk ‘kepala burung’. Pada sisi lain terbentuklah ‘leher  burung’ –  dari sebuah teluk yang bernama Teluk Bituni dan sebuah kawasan bakau  terbesar di Asia – Tenggara.

Kawasan bakau tersebut juga menjadi tempat pembuatan kayu dari pohon bakau  dan Tweety kembali terbang pagi ini untuk memantau  apakah masih beroperasi kegiatan tersebut.  Di Sepanjang teluk, Mereka juga melakukan pemantauan perkebunan kelapa sawit, Walaupun masih terlihat adanya penanaman, tetapi mereka tidak akan memperluas wilayah perkebunan ke hutan yang ada di sekitarnya. Ini adalah berita yang baik, Tetapi bagaimana cara kitas memastikan hutan itu masih utuh atau tidak? Walaupun itu disebut suatu wilayah hutan lindung untuk melindungi setiap inchi dari hutan tersebut terlindungi, tidaklah cukup uang dan Sumber daya yang mampu untuk menegakkan suatu kebenaran untuk melindungi dan memastikan tidak ada satupun yang menjamah untuk penebangan kayu.

Solusinya adalah dengan membuat kaya negara-negara dunia membantu mendanai perlindungan hutan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Amazon dan cenkungan Kongo. Seperti yang dilakukan Barnabas Suebu, gubernur Papua, yang melakukannya pada pulau Yapen dimana kami kunjunginya hari sabtu lalu, yang juga bagian dari Papua.

Ada sebuah proposal pengelolaan yang dapat menjamin keutuhan hutan dan perlindungan keanekaragaman hayati disana, serta Masyarakat dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah. Hak-hak atas kepemilikan masyarakat lokal diakui dan didokumentasikan dengan batas-batas tanah mereka Tradisional kepemilikan hak-hak masyarakat lokal diakui dan didokumentasikan oleh demarcating batas-batas tanah mereka dan untuk memastikan mereka tetap dapat mengunakan hutan untuk kebutuhan hidup mereka, masyarakat harus terlibat di setiap tingkat perencanaan.

A woodchip mill in West Papua, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

pembuatan kayu di papua barat, Indonesia © Greenpeace/Sharomov

Perencana tersebut  membutuhkan pendanaan  yang cukup banyak, dan pemerintah propinsi Papua mencari bantuan internasional yang dapat menyediakan dana . Sebagai gantinya, negara-negara donor dapat menghitung emisi yang disimpan dengan melestarikan hutan dan  angka pengurangan emisi yang mereka lakukan di negaranya.

Hal ini sama dengan mekanisme pendanaan yang telah kami usulkan, Yang kami sebut Forest for Climate, dan kami ingin memasukkan proposal tersebut masuk dalam tahapan kyoto protokol selanjutnya yang saat ini sedang dinegosiasikan. Dengan rincian yang sangat kompleks tetapi memiliki prinsip yang sederhana yaitu: melakukan perlindungan hutan dunia sebagai keprihatinan internasional, bukan hanya masalah untuk negara-negara yang memiliki hutan.

Dan itu tidak akan memakan biaya yang banyak. Diperkirakan pemangkasaan setengah dari emisi deforestasi bernilai sekitar 10-15 milliyar dolar setiap tahunnya terdengar sangat banyak bukan, tetapi bagaimana jika di bandingkan dengan 250 milliyar rencana Presiden Bush untuk medorong bank Amerika untuk terus hidup. Proposal tersebut harus dilakukan segera mungkin – jika mememungkinkan tahun depan bila mendapatkan banyak dukungan.

Mekanisme pendanaan yang Greenpeace ajukan berbasis pada pendanaan daripada berbasis pasar – membiarkannya ke  pasar bebas, dan kami mencoba memberikan jalan untuk pemerintah keluar dari krisis iklim. Ini akan menghasilkan suatu skala yang besar dalam menghitungan dosa karbon (carbon Offseting). Dimana negara kaya dapat menggunakan kredit perlindungan hutan tanpa mereka melakukan sesuatu untuk menurukan emisi di negara mereka.

Dan itu adalah titik penting: sama seperti peelindungan pada hak-hak masyarakat adat dan kekaragaman hayati, apapun mekanisme pendanaan yang telah beroperasi harus bersama-sama menurunkan emisi lebih besar dan menghasilkan efisiensi energi bersih, yang berasal dari energi terbarukan.

Bagian dari tujuan pelayaran kami adalah untuk mempromosikan usulan kami forest for climate. Ketika kami sampai di Jakarta, kami akan mengadakan pertemuan dengan Gubernur Papua dan Aceh, Para menteri dan perwakilan dari pemerintah internasional untuk membahas usulan kami dan mendapatkan dukungan mereka. Dan memastikan masih ada hutan yang tersisa untuk di lindungi, kami masih ingin pemerintah Indonesia untuk segera melakukan moratorium untuk semua konversi hutan sementara penataan bagaimana untuk melindungi hutan selamanya.

Jika Anda bisa klik di sini untuk informasi lebih lanjut tentang “Forest for Climate”

ditulis oleh Jamie diatas kapal Esperanza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: