Pulauku, Hutanku, Rumahku…

Dorothy (right) with fellow Greenpeace campaigner Lien in Jayapura © Greenpeace/Rante

Dorothy (kanan) with Lience (kiri) Juru kampanye hutan di Jayapura© Greenpeace/Rante

Acara penyambutan kedatangan kami di Jayapura pada hari senin yang lalu akan selalu saya kenang. Kami menerima sambutan yang sangat berkesan dari masyarakat Indonesia yang menyambut kami di Papua dan yang sangat mengejutkan pada saat itu adalah teman-teman di Papua dengan kelompok tarian dari masyarakat adat.

Bunyi dari kundu dan tifa menyambut kami, Saya menitikan air mata karena saya belum pernah bertemu mereka sebelumnya, Bunyi-bunyian yang tercipta saat itu mirip sekali dengan bunyi-bunyian saudara saya yang sedang mengadakan pesta kedataangan. Tariannya pun sangat mirip, saya mengambil kundu dari kapal dan bergabung membunyikannya dan selanjutnya ikut menari.

Setelah acara penyambutan, salah seorang dari penari memperkenalkan dirinya dan mengatakan bahwa ia berasal dari Skuo, dan mengatakan bahwa kami bersaudara. Ia mendengar seorang teman Papua memanggil nama saya,  ia sangat terkejut dan ingin bertemu. Beberapa waktu lalu, Ia telah bertemu beberapa anggota saudara saya. Nenek buyut saya berasal dari Skuo di Papua, letaknya beberpa mil dari perbatasan Indonesia dan Papua Nugini dan tidak jauh dari Jayapura.

Bertemu dengan penari dari masyarakat adat dan sanak saudara sangat berarti untuk saya saat ikut berkampanye untuk melindungi hutan di pulau ini. Sebagai  pembela lingkungan dan aktivis, tidak ada batasan dan tidak ada waktu untuk di sia-siakan

Semua ini tentang menyelamatkan hutan alam terakhir di dunia, Hutan alam ketiga terbesar di dunia. Yang kami sebut “Paradise Forest” di Asia Pasific. Ini adalah rumahku, juga…

Di tulis oleh Dorothy, Juru Kampaye hutan dari Papua nugini, Di atas Kapal Esperanza

1 Response so far »

  1. 1

    Lien Maloali said,

    Dear Dorothy,

    You wrote this story in bahasa, but I think you will like to know my comment I think I should write in English so you can understant. Before you came to Jayapura we have hear a little story about you, that yor great grandmother coming from Skouw, it is looks like we are relative because I also have some relative in Skouw.

    But something good is that I came from Papua and you came from PNG and both of us struggling of one point Save our last frontier of paradise forest in the world. Sista…!! I think you still remember the song of bird of paradise when Esperanza come to Manokwari “Sampai fajarpun terbit di Wondiboi, sayup ku dengar kicauan burung kuning…..” (When the sun rise in Wondiboi mountain, I hear the singing of yelow bird from afar) you told me that that song was break your heart.

    I knew that we will meet again in the same kind of work, and don’t forget to keep me in touch.

    Best warm regards

    Lien


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: