Pohon lagi…Pohon lagi…dimana-mana pohon!

Sungai yang membentang di hutan Mamberamo Papua, Indonesia © Greenpeace/Rante

Sungai yang membentang di hutan Mamberamo Papua, Indonesia © Greenpeace/Rante

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Tujuan kedatangan Esperanza ini adalah untuk memantau keadaan hutan di sekitar dengan mata kita sendiri. Dalam wilayah yang tidak dikotori oleh jalan-jalan, satu-satunya cara adalah melalui udara dan inilah mengapa ada Tweety, si helikopter bersama kami. Dalam beberapa hari ini, Tweety telah terbang beberapa kali dan akan ada beberapa penerbangan lagi. Yang paling sering terbang dengannya adalah Ardiles si fotografer dan Hernan dengan kamera videonya – karena merekalah yang mengumpulkan bukti-bukti dokumenter akan apa yang sedang terjadi di darat. Ironisnya, hanya tempat-tempat penebangan menjadi materi terbaik untuk para tukang gambar ini dan hutan utuh terlihat sama semua di dalam gambar. Salah satu kru malah berseloroh: “Ah pohon, pohon dan di mana-mana pohon.”

Tweety's pilot Sean © Greenpeace/Rante

Pilot Tweety Sean © Greenpeace/Rant

Bustar juga telah melakukan beberapa penerbangan – sebagai juru kampanye hutan, dia bisa menilai situasi dan memberi konteks pada gambar dan video yang dibawa kembali oleh para kamerawan. Dan sebagai wartawan online anda, siang ini saya diberi kesempatan untuk melihat hutan ini sendiri. Aku hanya perlu melupakan apa yang tadi malam dikatakan Sean,Pengemudi Helicopter Tweety, mengenai sedikitnya baut yang memegangi rotor helikopter.

Setelah menyebrangi beberapa mil laut antara kapal dan daratan, kita terbang di atas hutan rawa di pesisir pantai. Kami menuju arah tenggara menelusuri garis pepohonan, terbang di atas dua kampung kecil dimana rumah-rumah beratap seng berdiri dalam barisan yang rapi. Salah satunya berada dekat sebuah lokasi dimana peralatan berat duduk menunggi kayu-kayu bulat yang datang dari pedalaman.

Kami masuk terus ke arah pedalaman, melewati pohon-pohon besar yang dikenal dengan kayu Merbau. Kayu ini populer di Eropa untuk bahan pelapis lantai dan juga di tempat lain walaupun World Conservation Union mengatakan kayu ini menghadapi “resiko kepunahan yang sangat tinggi… dalam waktu dekat”. Tajuk-tajuk pohon terus bertambah lebat saat kami mendekati Pegunungan Van Rees dan ketinggian tanah meningkat. Sekelompok kakaktua putih terbang santai di antara pepohonan. Pintu-pintu helikopter tidak dipasang, jadi menurunnya suhu sangat terasa, dan di situ kami melihat lebih banyak bukti-bukti penebangan – jalan-jalan berlumpur yang melingkar di pebukitan, jejak-jejak peralatan berat sangat jelas.

Setelah melewati kaki-kaki pebukitan, semuanya diselimuti oleh pepohonan lebat, kami mencapai Sungai Mamberamo yang melingkar, lebar dan coklat, menuju pantai. Di salah satu lingkarnya, kami melihat sebuah kamp penebangan dimana pohon-pohon yang telah ditebang dimuat ke atas tongkang menuju kapal yang menunggu di hilir sungai. Wilayah-wilayah kecil di sekitarnya telah ditebangi dan walaupun tidak seperti operasi besar yang dilihat Bustar hari Selasa lalu, ini mengingatkan kita bahwa para penebang kayu telah masuk ke wilayah ini.

Kami mengitari kamp itu beberapa kali untuk mengambil gambar, terbang rendah di atas sungai dan kemudian ke wilayah Mamberamo Foja yang dilindungi – udara panas membawa bau lembab rawa-rawa dan jamur dari bawah tajuk-tajuk pohon. Di sinilah pada tahun 2005, sebuah tim peneliti menemukan beberapa spesies baru dan melihat kekayaan anekaragam hayati di bawahku, sangat mungkin masih banyak tumbuhan dan hewan yang tidak pernah ditemukan manusia – kalau belum dikalahkan oleh gergaji mesin dan kelapa sawit terlebih dahulu.

Sekembalinya ke atas kapal, aku masih mencoba mencerna apa yang barusan aku lihat. Aku telah melihat beberapa kantung hutan tropis sebelumnya, tapi tidak ada seujung kuku bila dibandingkan dengan apa yang kulihat di sini hari ini. Walaupun helikopter mungkin bukan cara transportasi yang paling ramah lingkungan, apa yang kulihat tidak akan sama bila dilihat dari darat. Aku sangat senang telah mendapatkan kesempatan untuk melihat hal ini sendiri, dan sepertinya aku masih melayang. Dan aku sangat, sangat senang bahwa kami berada di sini untuk membantu menyelamatkan bentangan hutan yang luarbiasa ini.

posted by Jamie on board the Esperanza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: