Esperanza Berlabuh di Jayapura, Dimulainya Pelayaran “Forest for Climate”

Pagi hari, di bawah sengatan matahari tropik, Kapal Greenpeace Esperanza berlabuh perlahan di Pelabuhan Jayapura. Sekitar 100 orang menunggu untuk menyambut kedatangan para awak kapal tersebut, termasuk Walikota Jayapura, yang disertai para penari dengan penampilan berwarna-warni. Saya juga ikut menunggu di sana, Tetapi tidak hanya untuk melihat kedatangan kapal tersebut melainkan akan ikut bersama para awak kapal tersebut untuk bergabung pada kegiaatan lanjutan pelayaran Hutan untuk Iklim.

Hari ini adalah paruh perjalanan dari sebuah proyek tiga bulan yang bertujuan menunjukkan bahwa pembalakan skala terbatas pada hutan yang tersisa akan menghasilkan dampak negatif luarbiasa pada iklim. Pelayaran ini berawal enam minggu lalu di Papua Nugini dengan fokus pembalakan illegal dan kehancuran yang dihasilkannya, bukan saja pada lingkungan tetapi juga menghancurkan masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan.

Saat ini Kapal Esperanza bergerak menuju perairan Indonesia. Sepanjang enam minggu kedepan, kami akan menelusuri negara kepulauan ini untuk melakukan beberapa kegiatan. Kami akan menunjukan Anda kemegahan luarbiasa hutan dan lahan gambut di Papua dan Sumatera, yang menjadi peringatan bagi kita semua, apa yang akan hadapi jika laju deforestasi sekarang ini terus berlanjut. Kami akan mengumpulkan bukti-bukti segar dari praktik-praktik merusak yang dilakukan beberapa perusahaan yang memperluas operasi mereka – dengan fokus pada industri kelapa sawit, tanpa mengenyampingkan faktor-faktor lain yang juga penting seperti pembalakan berskala Industri dan penambangan. Dan kami memaparkan jalan-keluar dari krisis ini, baik yang bersifat jangka panjang ataupun jangka pendek, sehingga hutan dapat terlindungi selamanya.

Nah, kenapa Papua? Sebagai paruh bagian dari Pulau Nugini yang terpencil dan bergunung-gunung, bagian yang termasuk Indonesia memiliki hutan-hutan alam tersisa yang luas terbesar– karena hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan sebagian besar sudah lenyap dan mengalami degradasi. Papua adalah hutan alam terakhir. Pulau Nugini secara keseluruhan adalah rumah bagi beragam suku dan marga yang mencerminkan tingginya keragaman budaya. Dan tentu saja keanekaragaman hayati adalah cici penting lain pulau itu, dimana penemuan-penemuan ilmiah spesies baru baik hewan maupun tumbuhan terus terjadi secara teratur.

ditulis oleh Jamie diatas kapal Esperanza

link yang bisa anda baca : kehancuran hutan penyebab perubahan iklim

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    peasantfarmer said,

    how do we get to the english translation promised ?

  2. 3

    peasantfarmer said,

    Hi Jamie

    Thanks for the link. Suggest it might be useful to put a link on the local language version to the english version for those non linguists amongst us [if that’s possible], and those who follow the link on aliencorn. Hope you’ve now recovered from the journey.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: