Archive for Oktober, 2008

Forests For Climate : skema besar perlindungan untuk hutan

With a scheme like Forests For Climate, intact forests would become more valuable than cash crops like palm oil © Beltra/Greenpeace

With a scheme like Forests For Climate, intact forests would become more valuable than cash crops like palm oil © Beltra/Greenpeace

Perubahan terjadi hari ini. Kami menyambut beberapa awak baru yang akan bergabung di pelayaran ini menuju sumatra dan lahan gambut di propinsi Riau. Setelah saya menemani satu dari dua orang dari mereka untuk berkeliling di Esperanza, jadi teringat pertama kali saya berada di sini tiga minggu yang lalu. Sulit di bayangkan bahwa kapal ini sekarang menjadi bagian dari hidup saya walaupun saya baru juga.

Kamu akan mengenal beberapa dari mereka di beberapa minggu mendatang tapi hari yang sangat besar adalah hari ini yang diharapkan menjadi puncak dari seluruh pelayaran ini. Di ruang VIP terminal penumpang pelabuhan Tanjung priok di Jakarta, Kami memaparkan proposal “Forest for Climate” yaitu suatu mekanisme pendanaan dari negara-negara yang  tela berkembang untuk mempertahankan hutan di Indonesia, Brazil dan di tempat lain, dengan harapan dapat menghentikan deforestasi di seluruh dunia.  Saya mencari sedikit demi sedikit dan melahap proposal ini beberapa minggu lalu, tapi ini sesuatu pekerjaan yang sangat rumit  jadi ini sesuatu yang sangat penting dan akan ada rinciannya nanti.

Acara yang di selenggarakan bersama menteri lingkungan hidup, Rachmat Witoelar yang membuka acara ini. ” perubahaan iklim  tidak dapat kita hentikan jika kita tetap melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasa,” Ungkapnya, dan menambahkan bahwa ia mau indonesia bergerak menurunkan karbon serta dapat memecahkan masalah kemiskinan yang sebagian besar masyarakat kita.

Christoph Thies, Juru kampanye  Greenpeace yang berasal dari Jerman, menjelaskan inti dari proposal  yang sangat hebat di ikuti  slideshow dari  Arief Wicaksono, penasihat politik Greenpeace di Jakarta, yang meliputi beberapa yang bersifat teknis. Christoph adalah salah seorang otak di belakang terciptanya proposal tersebut , dan ia terus menekankan betapa pentingnya pendanaan perlindungan hutan. Negara-negara maju perlu mengurangi karbon emisi mereka sendiri serta mengalirkan uang untuk melindungi hutan, jika tidak ada tindakan nyata yang akan melindungi iklim seperti proposal lain yang banyak dikemukakan

Dampak dari deforestasi pada  perubahan iklim akan menjadi agenda penting pada pertemuan  PBB mengenai perubahan iklim di Kopenhagen Desember mendatang, ketika tahap kedua protokol kyoto  dan negara-negara  donor yang mungkin akan menyumbangkan dana untuk karbon akan di undang seperti Jerman, Belanda, Norwegia, Australia, Inggris dan Jepang. Mereka adalah para donor potensial perlu mengetahui beberapa syarat  yang harus dilakukan, sebelum di mulainya pengaliran dana untuk perlindungan hutan dan jika rencana ini akan berjalan secara efektif.

A lorry travels through a palm oil plantation in Sumatra &copy Beltra/Greenpeace

A lorry travels through a palm oil plantation in Sumatra © Beltra/Greenpeace

Salah satu syaratnya adalah moratorium deforestasi di Indonesia ( Tuliskan surat dukunganmu pada presiden Indonesia), apa yang kami meminta Presiden untuk melaksankanannya –  ini akan memberikan sedikit waktu untuk melakukan suatu perbaikan tata kelola  mencari cara untuk perlindungan hutan selamanya. Persyaratan lainnya adalah  adanya pembangunan perekonomian yang berkelanjutan untuk masyarakat lokal adalah sesuatu yang terpenting, sehingga uang yang masuk tepat dimana dana itu di butuhkan bukan menjadi rekening seseorang di bank swiss.

Persyaratan lainnya dan memastikan dana tidak masuk ke rekening bank

Pra-syarat lainnya adalah memastikan dana yang di aliran benar-benar kedalam hutan yang ada, bukan pada hutan reboisasi atau hutan yang telah dihancurkan pada musim semi akan menangkap karbon seperti suatu jebakan, sebisa mungkin kita hindari. Kami juga menginginkan bahwa perusahaan yang melakukan penimbunan lahan tidak membuat suatu keuntungan dengan menjual ijin mereka untuk pembalakan dan pembukaan perkebunan kelapa sawit kepada pemerintah, yang akan membuat dana tersebut tidak mengalir kepada masyarakat dan akan masuk kedalam kantong mereka sendiri.

Tapi ini tidak semua dari pembicara dari Greenpeace ada beberapa perwakilan dari Propinsi Riau, Banda Aceh dan Kalimantan Tengah juga hadir pada acara tersebut. Perwakilan dari dari pemerintah Riau Susanto Kurniawan yang memberikan sedikit presentasi dengan data mencengangkan : sejak tahun 1982, Riau kehilangan 61.5% hutan dan lahan gambutnya, penurunan luasan hutan dari 6.5 juta hektar menjadi 2.5 juta hektar. Dipresentasi lain dari perwakilan Proponsi Nangro Aceh Darussalam mereka menjelaskan bagaimana gubernur mereka mendukung penghijauan dengan menjaga hutan alam mereka dan memelihara lingkungan secara keseluruhan dan bisa mendapatkan bantuan pendanaan dari penyelamatan tersebut.

Kita tidak memiliki waktu yang panjang untuk dapat menjalankan proposal ini. Dan seperti yang di tekankan Christoph, ini hanya bisa di lakukan untuk negara-negara yang telah maju untuk menyumbangkan dana dan memelihara hutan di Indonesia dan dimanapun.  Dahulu, mereka bertanggung jawab akan tingginya emisi gas rumah kaca dan tingginya deforestasi yang terjadi saat ini. Jadi para perusaklah yang harus membayarnya.

Jangan lupa, kamu bisa membantu menuliskan surat kepada presiden Indonesia untuk memintanya melaksanakan Moratorium  jika proposal Forest for climate ini mau berjalan. Dan besok kami akan meningglkan jakarta menuju sumtra untuk melihat kehancuran hutan yang di sebabkan perkebunan kelapa sawit yang telah merusak lingkungan di sana.

Leave a comment »

‘Ini lebih berarti dari sekedar memakai t-shirt’

Madeleine on the bridge of the Esperanza © Greenpeace/Rante

Madeleine berada di anjungan kapal Esperanza © Greenpeace/Rante

Rasanya sedikit aneh berlabuh setelah sepuluh hari di laut. Aku bangun pagi ini dan melihat Jakarta muncul di ufuk dengan berjajar kapal-kapal container sepanjang jalur menuju pelabuhan Tanjung Priok, dan sayang sekali lautan biru dan awan-awan putih telah berganti menjadi air pelabuhan yang keruh dan selimut awan kelabu. Tetapi energi yang terpancar dari tempat ini sangat menular dan aku sangat ingin turun untuk melihat-lihat.

Sebelum kita memulai bagian berikutnya dari pelayaran ini dan benar-benar melihat kerusakan yang ditimbulkan terhadap lingkungan akibat kelapa sawit, hanya ada satu wawancara yang tersisa untuk ditampilkan. Madeleine adalah nakhoda kapal ini, dan walaupun ini kali pertama dia menjadi kapten kapal Greenpeace, dia telah terlibat lama dalam organisasi ini dan organisasi lingkungan lain serta pekerjaan kampanye sosial lainnya.

Di sini dia menggambarkan pengalaman pertamanya dengan kapal Rainbow Warrior di Pasifik dan mengapa dia menyukai aksi langsung.

“Aku teringat pertama kali waktu akan ikut serta dengan Rainbow Warrior, sebelumnya aku telah berlayar dengan kapal replika Rainbow Warrior tapi dikelola sebagai kapal pesiar swasta – jadi kapal itu dipelihara dengan baik, memiliki pendanaan yang besar dan selalu dalam kondisi yang baik. Ketika aku  akan naik kapal Rainbow Warrior di Auckland, aku  pergi sendiri ke pelabuhan – aku  tidak tahu ternyata ada yang menjemput di bandara dan aku  lewati saja.

“Jadi waktu aku duduk di dermaga, memandangi kapal sebelum menaikinya, aku pikir, ‘Kelihatannya seperti sekumpulan orang aneh!’ Benar, itu yang aku  pikir. ‘Apakah aku  akan berlayar dengan mereka? Mereka sungguh terlihat seperti sekumpulan gelandangan’.  Tetapi sekarang aku mencintai mereka.

“Waktu pertama naik, setahu aku kita akan tur di New Zealand tetapi ternyata kita akan ke atol di Muoroa untuk memprotes pengujian bom nuklir. Suatu kehormatan besar menjadi bagian dari kapal itu, dan menjadi bagian dari kampanye yang sangat penting dan bersejarah.

“Ini adalah impianku yang menjadi kenyataan. Aksiku yang pertama adalah membawa perahu karet ke situs pengujian bom nuklir di Pasifik. Ini persis apa yang aku bayangkan apa itu Greenpeace, dan tadinya ini semua tampak mustahil.

“Kami dikelilingi oleh angkatan laut Perancis, angkatan militer yang kuat, dan aku dibiarkan di tengah-tengah lautan di tengah malam, 20 mil dari daratan terdekat dan daratan terdekat itu adalah tempat pengujian bom nuklir. Tugasku adalah membawa kapal karet dalam kegelapan malam, melewati karang-karang dan memanjat sebuah anjungan pengeboran dimana mereka akan melakukan uji nuklir. Ini benar-benar fantasi masa kecilku, sungguh asik.

“Kami berhasil melakukan aksi itu dan walaupun kami tidak bisa menghentikan semua tes nuklir, aku pikir paling tidak kami berhasil membawa masalah ini ke permukaan dengan memasukkannya ke halaman muka koran-koran dunia.

“Aku  selalu merasa bersemangat dengan aksi langsung dan aku  telah terlibatr dengan hal ini sejak di universitas ketika aku terlibat aksi-aksi langsung dalam isu sosial dan lingkungan. Aku  pikir ini alat yang sangat efektif dan pelampiasan yang baik untuk mereka yang benar-benar percaya pada pekerjaan mereka di kampanye lingkungan – daripada hanya menulis, melaporkan dan bicara, kamu bisa melakukan sesuatu. Kamu bisa lansgung mengatakannya sendiri, ini yang aku  percaya. Ini lebih kuat daripada sekedar memakai t-shirt.”

Comments (1) »

Video : Memantau Hutan Indonesia

Untuk memperlihatkan gambar-gambar yang menarik dari helikopter selama penerbangan di atas Papua, kami mengumpulkan video ini. Dengan narasi dari Bustar, yang melakukan banyak penerbangan dan ia menjelaskan mengapa mempertahankan hutan di pulau nugini sangat pnting. Selamat menikmati…

Leave a comment »

Manusia di Atas Langit

Shaun in flight © Greenpeace/Rante

Shaun di dalam helikopter © Greenpeace/Rante

Seseorang yang telah mengambil bagian dalam seluruh penelitian kami bersama helikopter Tweety, tentu saja  sang pilot . Shaun (Dingo pangilan di Kapal)  telah melakukan misinya selama di Indonesia dan Papua Nugini. Dan saat ini, dia cukup baik dalam memperbandingakan ke dua wilayah  antara Papua Nugini dan Indonesia.

Siapa saja yang telah melakukan penerbangan  dan apa yang mereka lihat?

Sering sekali dengan Bustar, Juru Kampanye hutan. Ia juga melakukan penerbangan dengan para wartawan untuk memastikan bahwa ia memberikan penjelasaan tentang area yang di lihat. Seperti tentang pembalakan apa saja yang sedang terjadi atau apakah itu benar-benar hutan asli dan tentunya untuk dokumentasi. Saya pun melakukan penerbangan dengan photographer dan videographer untuk dokumentasi.

Anda juga melintasi  hutan papua nugini saat kapal  Esperanza berada di sana beberapa minggu yang lalu. Apakah anda memperhatikan ada perbedaan di kedua sisi pulau ini?

Perbedaan utama  antara Papua dan Papua Nugini adalah perbedaan besaran  populasi. Di Papua Nugini, masyarakat adat lebih banyak tersebar di dalam hutan dan sepanjang sungai. Sedangkan di Papua, mereka seolah-olah hanya bermukim di kawasan permukiman dan menjadi lebih modern dengan rumah-rumah yang terbuat dari atap timah, berada di pinggir jalan. Ini benar-benar sesuatu yang tidak biasa.

Penerbangan yang paling berkesan selama ini?
Sebagian besar penerbangan sangat berkesan dengan melihat pemandangannya yang sangat luar biasa. Tentu saja, Papua New Guinea dengan semua pegunungan dan semua alamnya, dan juga di Papua yang juga memiliki pegunungan dan hutan yang sama, tetapi  tidak begitu banyak kegiatan pembalakan di Papua.  Tetapi  pantai di sepanjang Papua sangat indah – pantai yang alami, terumbu karang, dan serta gugusan pulau-pulau.

Apakah perbedaan mendaratkan helikopter diatas kapal dengan di lahan?
Ada perbedaan yang sangat besar.  Angin menjadi penentu paling utama,  tetapi umumnya ia menjadi penentu di lapangan – Anda tahu di mana angin berhembus dan anda mendarat di tempat yang pastikan.  Tetapi dengan kapal, yang selalu bergerak dan harus memposisikan helikopter secara benar. Dan juga berharap landasan tidak bergerak karena terlalu banyak gelombang besar.

pada pelayaran ini saya merasa cukup mudah karena gelombang laut yang tenang tetapi saja juga pernah mendaratkan dengan buruk dan macet. Dan hal yang sangat menyedikan yaitu ketika akan memasukkannya ke dek di saat kapal banyak bergerak dan membuat pusing, dan itu menjadi sesuatu yang tidak biasa.  Bahkan terkadang saat akan medarat dan helikopter bergerak kekanan dan kekiri secara tidak menentu dan membuat anda berfikir ” Woah, Ada apa ini?” Hal itu tentu saja merupakan situasi yang berbeda.

Dengarkan wawancara dengan shaun`s yang telah melakukan penerbangan di pulau nugini

Comments (1) »

Berada di Dua Perbatasan

Dorothy on the deck of the Esperanza © Greenpeace/Rante

Dorothy di geladak Kapal Esperanza© Greenpeace/Rante

Kami sudah berlayar melewati serta menemukan beberapa nama-nama yang indah yang berasal dari berbagai belahan dunia seperti Flores, Butu, Ceram, Halmahera and beberapa kepulauan kecil. Untuk saya membayangkan kapal-kapal yang berlayar dengan penuh bahan muatan dengan pala, Merica dan Cengkeh.

Memang pandangan yang sangat Eurocentris, tentu dengan perdagangan rempah-rempah ini adalah penghasilan untuk para penduduk lokal, tetapi saya tidak dapat menemukan jalur asosiasi eksplorasi perdagangan yang mempesona dan juga pelayaran yang belum di petakan. (yang sangat perlu dibaca adalah sejarah masa lalu, Anda bisa mencarinya dari tulisan Nathaniel’s Nutmeg oleh Giles Milton.)

Tetapi saat ini kami sedang melintasi daerah yang sangat eksotik, kami sedang mempersiapkan pemberhentian kami selanjutnya di Jakarta dan perjalanan panjang juga memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan beberapa wawancara yang saya lakukan antara Jayapura dan Manokwari.

Salah satu wawancara yang paling menarik dengan beragam orang dan bekerja sama dengan saya pada pelayaran ini adalah Doroty . Beliau adalah Juru kampanye hutan yang berasal dari Papua Nugini dan telah bersama Esperanza dari Port Moresby pada bulan Agustus. Dorothy telah meninggalkan kapal akhir pekan lalu di Manokwari tapi sebelum ia turun, saya ingin mengetahui mengapa sangat penting baginya tetap di atas kapal saat menuju  ke Indonesia yang berbatasan dengan Papua Nugini.

Anda telah berada di Esperanza untuk di dua negara di Papua Nugini dan Indonesia. Mengapa berada diperbatasan menjadi sangat penting untuk anda?

Ini sangat penting untuk berbagai alasan. Pertama, sebagai Juru Kampanye,sangat baiknya untuk memahami bahwa pulau ini kaya keanekaragaman hayati dan merupakan kesatuan ekologi. Pulau ini memiliki masalah yang sama di kedua sisi perbatasan dan sebagai seorang juru kampanye itu sangat penting bagi saya untuk memahami apa yang sedang terjadi di sini, serta di Papua Nugini.
Selain itu, Jika kita pergi kesuatu konferensi internasional, kita cenderung untuk berbicara sebagai satu pulau yaitu pulau nugini. Yang merupakan hutan hujan terbesar ketiga dan menjadi sangat Ini adalah dunia ketiga terbesar hutan hujan dan sangat penting berpikir secara keseluruhan daripada terbagi-bagi. Ini juga telah memperkaya pengetahuan saya untuk melihat perjuangan rekan-rekan saya ini di sisi perbatasan, dan masalah-masalah yang mereka hadapi di sini.

Dan anda mempunyai kedekataan cukup kuat dengan Papua, juga?
Secara pribadi, kunjungan ini sangat menjadi sedikit emosional untuk saya. Karena saya melihat keindahan pulau saya, menjadi keturunan orang Papua dari sisi lain. Saya berasal dari Papua New Guinea tetapi  nenek saya berasal dari sisi perbatasan, dan ini menjadi sesuatu yang emosional bagi saya bertemu saudara di Papua melalui lingkungan dan yang terutama karena sebagian besar dari mereka masih menggantungkan mata pencahariannya pada hutan.

Saya memiliki keluarga di sana yang hidup di bawah sistem politik yang berbeda, tanah yang berbeda dan undang-undang tentang hutan yang berbeda. Ini menjadi sangat sensitif, tetapi juga menarik untuk mempelajari tentang hak-hak mereka dan juga membuat saya lebih tahu bagaimana cara kita bersatu sebagai masyarakat adat di pulau ini bukan sebagai dua orang yang berbeda negara, hukum atau politik.

Dengarkan wawancara dengan Doroty berikut ini tentang hubungan antara Papua da Papua Nugini

Leave a comment »

Menolong dengan sedikit P3K

Valeriy treats an infected leg in the Esperanza's sick bay © Greenpeace/Sharomov

Valeriy mengobati kaki yang terinfeksi di ruang perawatan diatas kapal Esperanza © Greenpeace/Sharomov

Walaupun kami berada di sini untuk menghadapi isu-isu global dan besar seperti deforestasi dan perubahan iklim, kami masih punya  waktu untuk mengurusi masalah-masalah kecil juga. Di atas kapal Esperanza terdapat ruang perawatan dan seorang petugas medis, dan di negara seperti Indonesia banyak kesempatan untuk menebar sedikit kasih sayang.

Valeriy, dokter kami yang berasal dari Ukraina, tidak pernah lelah menolong beberapa orang yang kami temui dengan diagnosa dan kadang-kadang juga pengobatan berbagai penyakit. Beberapa minggu lalu dia membuka klinik pertolongan pertama dadakan di sebuah desa di Papua New Guinea dan ingin juga melakukan sesuatu yang sama di Indonesia.

Pada acara penyambutan di Manokwari salah seorang penari mengalami infeksi di kakinya valeriy dengan cekatan mengobatinya dan saat kami sedang merapat di pelabuhan, Valeriy melihat  desa Biryosi, sekelompok rumah panggung dari kayu beberapa mil dari pusat kota. Tempat yang cocok untuk sedikit P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan).

Examining a man with tuberculosis © Greenpeace/Sharomov

Memeriksa seorang laki-laki yang terkena tuberculosis
© Greenpeace/Sharomov

Bersama Kelly, Yoyon dan Resa (para kru Esperanza dari Indonesia untuk membantu menerjemahkan) dan dengan Dimitri si mualim dua, Valeriy pergi dengan perahu karet pada haru Minggu pagi. Pak kepala suku memberi ijin teras rumahnya digunakan sebagai klinik dadakan. Antrian yang panjang artinya Valeriy harus bekerja selama hampir empat jam, memeriksa dan mengobati berbagai penyakit. Karena banyaknya orang yang datang, rumah pak Kepala Suku mulai bergoyang dan dia kuatir bisa-bisa rumahnya rubuh ke laut.

Banyak orang mengalami ISPA atau infeksi pernafasan seperti TBC, bronchitis dan berbagai penyakit pernafasan lainnya. Ada juga beberapa orang yang mengalami penyakit kulit dan infeksi perut, termasuk penyakit infeksi usus yang bisa diobati oleh Valeriy. Tapi walaupun terdapat beberapa kasus malaria, sebagian besar pada anak-anak, dia hanya bisa mendiagnosa dan memberi saran pada yang telah terinfeksi. Malaria sangat banyak diderita sehingga para penduduk bisa mendiagnosa sendiri, tapi karena berbagai alasan mereka belum mengobatinya ke rumah sakit di Manokwari. Valeriy ditawari uang sebagai bayaran layanannya, tetapi dia menolak dengan halus, tapi dia tidak bisa menolak sewaktu diberi beberapa buah kelapa.

Berita mengenai dokter kapal dari atas kapal beredar cepat, karena pada pagi hari berikutnya, tidak lama sebelum kami mulai berlayar meninggalkan Manokwari sepasang orang tua datang dengan perahu kayu dan anak mereka yang terkena flu. Perahu mereka harus ditolong oleh beberapa orang nelayan yang lewat ketika mereka pergi meninggalkan kapal, tetapi beberapa buah kelapa mengantarkan mereka kembali ke kapal sebagai ungkapan rasa terimakasih mereka. Rasanya senang sekali.

posted by Jamie, on board the Esperanza

Leave a comment »

Gereja tergenang, hutan keracunan: apakah ini akibat perubahan iklim?

An abandonned church in Yeretuap village, Papua © Greenpeace/Rante

Gereja yang hancur di desa Yeretuap, Papua © Greenpeace/Rante

Ekspedisi ini benar-benar sebuah pendidikan. Misalnya, sejak aku ikut kapal ini aku banyak belajar mengenai bagaimana informasi dikumpulkan untuk berbagai kampanye kami. Aku banyak menghabiskan waktu di kantor Greenpeace di London, dan dengan pergi sendiri ke lapangan banyak hal menjadi jelas.

Misalnya penerbangan dengan helikopter hari Senin lalu. Selain kegiatan pembalakan liar yang ditemukan oleh tim, mereka juga menemukan sebuah pemandangan menarik. Ketika mereka kembali ke Esperanza, Bustar menunjukkan kami gambar-gambar sebuah gereja di pinggir pantai yang mereka lalui. Gereja itu sebagian tergenang air dengan ombak yang berdebur di pintunya. Dia juga mengambil gambar hutan yang mati di sekitarnya, dimana air laut masuk dan membanjiri hutan sekitar dan meracuni pohon-pohon dengan air laut.

Asumsi kami langsung mengarah pada kenaikan permukaan air laut, dan ini tampaknya didukung oleh fakta bahwa desa Yeretuap yang pernah berada di sekitar gereja telah pindah lebih ke arah hulu. Tetapi walaupun gambar-gambar ini dapat menjadi bukti kuat bagi pekerjaan kampanye perubahan iklim, hal ini tetap harus diinvestigasi lebih lanjut.

The sea rushed in an poisoned this forest near Yeretuap village © Greenpeace/Rante

Air laut menyerang hutan yang keracunan di hutan dekat desa Yeretuap © Greenpeace/Rante

Jadi jadwal penerbangan heli ditambah untuk kembali ke desa itu. Bustar pergi dan berbicara dengan beberapa orang desa setempat untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Dan mereka mengatakan bahwa desa mereka terpaksa pindah ke tanah yang lebih tinggi bukan karena permukaan air laut yang meningkat tapi karena tsunami yang melanda desa mereka pada tahun 2002.

Mungkin kita akhirnya tidak mendapat cerita besar tentang perubahan iklim, tetapi ini contoh baik bagaimana temuan awal dalam perjalanan riset kami tetap didukung oleh investigasi yang lebih mendalam (juga peringatan agar tidak dengan cepat menyimpulkan sesuatu). Hal yang sama juga berlaku dengan dugaan pembalakan liar yang kami temukan dalam salah satu penerbangan, investigasi dilakukan dari atas kapal dan dari kantor kami di Jakarta sebelum informasinya diumumkan. Dalam pekerjaan ini, kami harus yakin fakta-fakta yang digunakan adalah benar.

Leave a comment »