
Valeriy mengobati kaki yang terinfeksi di ruang perawatan diatas kapal Esperanza © Greenpeace/Sharomov
Walaupun kami berada di sini untuk menghadapi isu-isu global dan besar seperti deforestasi dan perubahan iklim, kami masih punya waktu untuk mengurusi masalah-masalah kecil juga. Di atas kapal Esperanza terdapat ruang perawatan dan seorang petugas medis, dan di negara seperti Indonesia banyak kesempatan untuk menebar sedikit kasih sayang.
Valeriy, dokter kami yang berasal dari Ukraina, tidak pernah lelah menolong beberapa orang yang kami temui dengan diagnosa dan kadang-kadang juga pengobatan berbagai penyakit. Beberapa minggu lalu dia membuka klinik pertolongan pertama dadakan di sebuah desa di Papua New Guinea dan ingin juga melakukan sesuatu yang sama di Indonesia.
Pada acara penyambutan di Manokwari salah seorang penari mengalami infeksi di kakinya valeriy dengan cekatan mengobatinya dan saat kami sedang merapat di pelabuhan, Valeriy melihat desa Biryosi, sekelompok rumah panggung dari kayu beberapa mil dari pusat kota. Tempat yang cocok untuk sedikit P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan).

Memeriksa seorang laki-laki yang terkena tuberculosis
© Greenpeace/Sharomov
Bersama Kelly, Yoyon dan Resa (para kru Esperanza dari Indonesia untuk membantu menerjemahkan) dan dengan Dimitri si mualim dua, Valeriy pergi dengan perahu karet pada haru Minggu pagi. Pak kepala suku memberi ijin teras rumahnya digunakan sebagai klinik dadakan. Antrian yang panjang artinya Valeriy harus bekerja selama hampir empat jam, memeriksa dan mengobati berbagai penyakit. Karena banyaknya orang yang datang, rumah pak Kepala Suku mulai bergoyang dan dia kuatir bisa-bisa rumahnya rubuh ke laut.
Banyak orang mengalami ISPA atau infeksi pernafasan seperti TBC, bronchitis dan berbagai penyakit pernafasan lainnya. Ada juga beberapa orang yang mengalami penyakit kulit dan infeksi perut, termasuk penyakit infeksi usus yang bisa diobati oleh Valeriy. Tapi walaupun terdapat beberapa kasus malaria, sebagian besar pada anak-anak, dia hanya bisa mendiagnosa dan memberi saran pada yang telah terinfeksi. Malaria sangat banyak diderita sehingga para penduduk bisa mendiagnosa sendiri, tapi karena berbagai alasan mereka belum mengobatinya ke rumah sakit di Manokwari. Valeriy ditawari uang sebagai bayaran layanannya, tetapi dia menolak dengan halus, tapi dia tidak bisa menolak sewaktu diberi beberapa buah kelapa.
Berita mengenai dokter kapal dari atas kapal beredar cepat, karena pada pagi hari berikutnya, tidak lama sebelum kami mulai berlayar meninggalkan Manokwari sepasang orang tua datang dengan perahu kayu dan anak mereka yang terkena flu. Perahu mereka harus ditolong oleh beberapa orang nelayan yang lewat ketika mereka pergi meninggalkan kapal, tetapi beberapa buah kelapa mengantarkan mereka kembali ke kapal sebagai ungkapan rasa terimakasih mereka. Rasanya senang sekali.
posted by Jamie, on board the Esperanza



