Arsip untuk Oktober 21, 2008

Gereja tergenang, hutan keracunan: apakah ini akibat perubahan iklim?

An abandonned church in Yeretuap village, Papua © Greenpeace/Rante

Gereja yang hancur di desa Yeretuap, Papua © Greenpeace/Rante

Ekspedisi ini benar-benar sebuah pendidikan. Misalnya, sejak aku ikut kapal ini aku banyak belajar mengenai bagaimana informasi dikumpulkan untuk berbagai kampanye kami. Aku banyak menghabiskan waktu di kantor Greenpeace di London, dan dengan pergi sendiri ke lapangan banyak hal menjadi jelas.

Misalnya penerbangan dengan helikopter hari Senin lalu. Selain kegiatan pembalakan liar yang ditemukan oleh tim, mereka juga menemukan sebuah pemandangan menarik. Ketika mereka kembali ke Esperanza, Bustar menunjukkan kami gambar-gambar sebuah gereja di pinggir pantai yang mereka lalui. Gereja itu sebagian tergenang air dengan ombak yang berdebur di pintunya. Dia juga mengambil gambar hutan yang mati di sekitarnya, dimana air laut masuk dan membanjiri hutan sekitar dan meracuni pohon-pohon dengan air laut.

Asumsi kami langsung mengarah pada kenaikan permukaan air laut, dan ini tampaknya didukung oleh fakta bahwa desa Yeretuap yang pernah berada di sekitar gereja telah pindah lebih ke arah hulu. Tetapi walaupun gambar-gambar ini dapat menjadi bukti kuat bagi pekerjaan kampanye perubahan iklim, hal ini tetap harus diinvestigasi lebih lanjut.

The sea rushed in an poisoned this forest near Yeretuap village © Greenpeace/Rante

Air laut menyerang hutan yang keracunan di hutan dekat desa Yeretuap © Greenpeace/Rante

Jadi jadwal penerbangan heli ditambah untuk kembali ke desa itu. Bustar pergi dan berbicara dengan beberapa orang desa setempat untuk menanyakan apa yang telah terjadi. Dan mereka mengatakan bahwa desa mereka terpaksa pindah ke tanah yang lebih tinggi bukan karena permukaan air laut yang meningkat tapi karena tsunami yang melanda desa mereka pada tahun 2002.

Mungkin kita akhirnya tidak mendapat cerita besar tentang perubahan iklim, tetapi ini contoh baik bagaimana temuan awal dalam perjalanan riset kami tetap didukung oleh investigasi yang lebih mendalam (juga peringatan agar tidak dengan cepat menyimpulkan sesuatu). Hal yang sama juga berlaku dengan dugaan pembalakan liar yang kami temukan dalam salah satu penerbangan, investigasi dilakukan dari atas kapal dan dari kantor kami di Jakarta sebelum informasinya diumumkan. Dalam pekerjaan ini, kami harus yakin fakta-fakta yang digunakan adalah benar.

Komentar bertahan »

Ikuti Esperanza dengan Google Earth

Follow the Esperanza in Google Earth

Ikuti Perjalanan Esperanza di Google Earth

Kalau kamu masih ingin membayangkan di mana tempat-tempat yang telah kami lalui, dan rute yang akan ditempuh dalam perjalanan kapal di Indonesia, kamu bisa mengikuti perjalanan Esperanza dengan Google Earth. Silakan mengunduh layer google earth ini dan kamu bisa melihat kapan dan di mana saat-saat tertentu yang telah kami lewati dalam tur ini. (Tentunya kamu harus meng-install Google earth dulu ya.)

Placemark baru akan muncul secara otomatis tiap kali kami meng-update cerita perjalanan, jadi sering-seringlah kembali untuk mengikuti kegiatan kami dan bagaimana kegiatan kampanye berlangsung. Kalau kamu tidak mau meng-install Google Earth, kamu tetap bisa melihat di mana kami berada dengan web browser-mu.

The mysterious whale, answers on a postcard © Greenpeace/Sharomov

© Greenpeace/Sharomov

Sementara, kami telah meninggalkan Manokwari pada hari Senin dan sekarang sedang berlayar ke arah barat menuju Jakarta. Kami akan tiba pada pertengahan minggu depan. Kami telah melewati selat sempit yang bernama Selat Sagewin, kurang dari 2 mil di antara bukit-bukit berhutan dari dua pulau. Saat ini kami sedang berlayar di Laut Seram.

Para kru mengambil kesempatan perjalanan panjang ke Jakarta ini untuk mengecat beberapa bagian kapal. Saya juga sedang beristirahat dari pekerjaan menulis webblog ini dan membantu para kru. Kemarin sekelompok dari kami mengecat bagian depan dek kapal.

Saat kami sedang bekerja, Locky sang bosun atau penyelia anak buah kapal dan Silas melihat keriuhan dalam air hanya beberapa ratus meter dari kapal kami. Air laut terlihat berbuih, dan beberapa saat terlihat semprotan air ke udara – hal ini hanya berarti satu hal: ikan paus! Beberapa diantara mereka terlihat sedang mengiring rombongan ikan menjadi bola-bola umpan dan sesekali membuka rahang mereka yang besar untuk memakan mangsanya.

Dimitri, mualim dua kami, mengambil beberapa foto dan walaupun kami cukup jauh, kamu bisa melihat dengan jelas seekor ikan paus sedang makan. Sudah tujuh tahun dia terakhir melihat seekor paus – memang hari yang beruntung.

posted by Jamie, on board the Esperanza

Komentar bertahan »